Menikah di Usia Belia

HATI Tinuk berbunga-bunga, Pak Warno yang selama ini menjadi pelanggan setia, telah mengutarakan keinginannya untuk melamar. “Perempuan mana yang tidak senang, punya suami kaya dan keren seperti Pak Warno,” kata Tinuk dalam hati.

Bu Barjo ternyata juga menerima dengan senang hati pinangan Warno, meski sebenarnya usia Tinuk masih sangat belia. Namun mengingat desakan ekonomi, membuat Bu Barjo tak perlu berpikir panjang. Ia merasa sedih setiap kali melihat Tinuk harus keluar rumah untuk menjajakan jamu.

Tanpa diduga, Warno tak sekadar melamar, namun ingin segera cepat-cepat melangsungkan pernikahan. Alasannya ia merasa sudah mantap untuk mempersunting Tinuk.

“Nanti kalau sudah jadi istri saya, Tinuk tidak perlu berjualan jamu lagi. Saya kasihan melihat Tinuk harus berpanas-panas setiap hari, sementara hasilnya tidak seberapa,” kata Warno.

Karena didesak seperti itu, Bu barjo pun mengiyakan saja. Apa yang diucapkan Warno ada benarnya juga, karena dirinya juga kasihan memaksakan Tinuk untuk mencari nafkah.
Bu Barjo juga menerima saja ketika Warno menyarankan agar untuk sementara pernikahan dilangsungkan secara siri. Warno beralasan, jika melalui pernikahan resmi di KUA, prosesnya terlalu lama dan rumit. Padahal ia sudah ingin sekali segera memperistri Tinuk.
Jadilah pernikahan digelar dalam waktu singkat, namun berlangsung dengan meriah. Semua dibiayai Warno, dengan mengundang tetangga dan warga kampung sebelah. Kemeriahan pernikahan makin lengkap dengan adanya pentas penyanyi dangdut. Warga berbondong-bondong untuk menyaksikan hiburan gratis itu.

Tinuk pun menjadi buah bibir warga. “Tinuk dipersunting bos bangunan,” begitu suara dari mulut ke mulut yang beredar dengan cepat. Ada tetangganya yang merasa ikut senang, namun tak sedikit pula yang menanggapi dengan sinis. Mereka merasa iri, Tinuk yang selama ini hidup susah, tiba-tiba menjadi ‘bintang’ desa karena dinikahi orang kaya.

Usai pernikahan, ternyata Warno tetap tinggal di rumah Bu Barjo. Dalam waktu singkat, rumah yang sederhana itu langsung disulap menjadi bangunan yang cukup mentereng. Memang tidak terlalu megah, namun sudah jauh lebih baik dibanding sebelumnya.

Hidup Tinuk pun sekarang tidak susah lagi. Apapun yang diminta, pasti diberikan Warno. Kembalilah situasi seperti saat Tinuk masih kecil, saat dimanja oleh Pak Barjo dengan limpahan harta. (Bersambung)

Read previous post:
Tiba-tiba Datang Melamar

NAMA jamu jeng Tinuk semakin dikenal dimana-mana. Pelangganya datang dari berbagai kalangan. Dari para ibu rumah tangga, bapak-bapak yang bekerja

Close