Nasi Sudah Menjadi Bubur

KEHIDUPAN masa kecil yang penuh lika-liku, mempengaruhi karakter Tinuk. Cuek dan punya ego tinggi, sehingga apapun keinginannya harus dituruti. Padahal kondisi ekonomi Pak Barjo tidak seperti zaman kejayaannya. Dengan menggarap sawah sepetak, dan makan dari hasil berkebun sendiri memaksa keluarga Barjo harus hidup dengan pola yang sangat sederhana.

Situasi itu juga membuat Pak Barjo menjadi sakit-sakitan. Sementara untuk berobat ke rumah sakit, tidak memiliki biaya. Padahal saat itu Tinuk sudah memasuki akhir sekolah SMP, sehingga juga membutuhkan biaya untuk sekolah.
Akhirnya terpaksa Bu Barjo yang harus banting tulang untuk mencari uang. Padahal tidak ada keahlian yang dia miliki. Beruntung ada seorang tetangga yang bersedia memberi pelajaran untuk membuat jamu. Meski awalnya agak sungkan, terpaksa Bu Barjo harus menekuni profesi sebagai penjual jamu gendong.

Dengan badan yang sudah tidak muda lagi, Bu Barjo pun berjalan keluar masuk kampung mencari pelanggan jamu. Tidak mudah memang, tapi Bu Barjo tidak pernah putus asa. Ia hanya mengingat Tinuk dan suaminya, yang setiap harus harus bisa makan. Belum kebutuhan-kebutuhan lain, yang tidak bisa ditunda lagi.

Kadang-kadang Bu Barjo berhenti di sebuah proyek bangunan. Di tempat itu, biasanya banyak yang membeli karena tukang-tukang membutuhkan asupan jamu demi menjaga kesehatan. Sambil melayani pembeli, Bu Barjo kadang sambil melihat ke sekeliling. Pikirannya pun melayang ke masa silam, saat suaminya dulu pernah berkecimpung di proyek-proyek bangunan. Bukan sebagai kuli, tapi bos yang tinggal mengatur dan duduk manis di kantor. Bu barjo pun hanya bisa menghela nafas panjang.

Setidaknya ia masih bisa bersyukur, karena keluarganya tetap utuh di tengah cobaan yang sangat berat. Ada juga rasa penyesalan, karena dirinya pernah melakukan hal yang tak terpuji dengan Oom Joko.

“Seandainya bapak tidak tergoda wanita lain dan saya juga tidak main gila dan Joko, mungkin nasib saya tak seperti ini. Tapi ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur,” kata Bu Barjo dalam hati.

Kini yang dipikirkannya hanyalah masa depan Tinuk. Ia agak cemas dengan sifat putri semata wayangnya itu, yang sepertinya belum bisa menerima kenyataan menjadi orang tidak berpunya. Sedikit demi sedikit uang hasil penjualan jamu ia sisihkan untuk ditabung, sebagai persiapan biaya pendidikan Tinuk. Tapi rasanya uang itu sulit terkumpul, karena sebentar-sebentar Tinuk minta dibelikan ini dibelikan itu. (Bersambung)

Read previous post:
Batik Tak Lekang Zaman

DILIHAT dari peninggalan dan cerita tutur, diduga batik dikenal pada zaman Tarumanagara. Pohon tarum yang banyak terdapat di Tasikmalaya diduga

Close