Takut Berterus Terang

TIDAK sebagaimana umumnya calon pengantin yang penuh suka cita dalam menyambut hari pernikahan, Inem justru merasa takut. Hari demi hari, jam demi jam, menit demi menit, dan detik demi detik dilalui dengan perasaan penuh was-was. Keringat dingin selalu membasahi tubuhnya, setiap kali bertemu dengan calon suaminya, Pono.

Ingin rasanya Inem punya waktu luang hanya berdua saja dengan Pono, agar bisa menjelaskan kondisi dirinya yang sebenarnya. Tapi di sisi lain, ada ketakutan untuk berterus terang, bicara secara jujur dengan calon pasangannya itu.

Sampai sejauh ini memang tidak ada yang curiga sama sekali dengan kehamilan Inem. Baik Mbok Waginem, kedua calon mertuanya maupun Pono sendiri. Hanya Pak Tugino yang ada kecurigaan, ketika mendengar ucapan dokter di poliklinik yang menyebutkan bahwa kemungkinan Inem sedang hamil. Namun Pak Tugino sendiri juga diliputi rasa keraguan, untuk menanyakan secara langsung pada Inem.

Inem menyadari, meski sejauh ini rahasia itu masih tertutup rapat, suatu saat nanti pasti akan terbongkar. Terutama Pono, tak mungkin tidak tahu kondisi itu, setelah nanti resmi menjadi suami Inem.

Dielus-elusnya perut yang semakin membuncit. Usia janin tiga bulan lebih memang masih bisa ditutupi dengan baju yang longgar. Tapi jika diraba, Inem sudah bisa merasakan perutnya yang makin membesar.

“Mas, Inem mau bicara berdua saja,” kata Inem di suatu kesempatan.

“Tunggu sebentar lagi, toh kita akan berdua selamanya,” jawab Pono sedikit bercanda.

Jawaban yang membuat hati Inem serasa dicubit. Sakit rasanya. “Apakah Mas Pono bisa memegang kata-katanya itu, setelah tahu aku mengandung bukan anaknya?” tanya Inem dalam hati.

Memikirkan hal itu hati Inem menciut lagi, untuk berterus terang pada Pono. Hari-hari pun berlalu terasa sangat cepat, hingga akhirnya Inem tak pernah sempat menyampaikan uneg-unegnya kepada Pono.

Pernikahan Inem dengan Pono pun berlangsung meriah menurut ukuran kampung tempat tinggal mereka. Saat semua orang tertawa dan tersenyum gembira di tengah pesta perkawinan, Inem hanya bisa menundukkan kepala dengan pikiran yang tidak tenang.

Pono menanggapi sikap perempuan yang kini telah menjadi istrinya itu dengan tenang, karena dinilai sebagai wujud malu-malu kucing seorang pengantin baru.

Ketika tamu-tamu sudah menghilang satu per satu dan rumah mulai sepi, dada Inem berdegub semakin kencang. Apalagi hari berlalu dengan cepat, hingga malam mulai merayap naik. Kamar pengantin yang dihias dengan apik pun, bagi Inem terlihat seperti neraka yang siap menghukum dirinya. (Bersambung)

Read previous post:
Populasi Ternak Didata Ulang, 1.686 Ekor Sapi dan Kambing Hewan Kurban Disembelih

SUKOHARJO (MERAPI) - Sebanyak 1.686 ekor sapi dan kambing disembelih sebagai hewan kurban saat Idul Adha. Rinciannya 608 ekor sapi

Close