Tanggungjawab Orangtua

SEBAGAI seorang ayah, ada kegelisahan yang menyelimuti hati Pak Tugino. Ucapan dokter di poliklinik, yang mengatakan Inem sedang hamil, menjadi pukulan telak yang menghantam kepala, sehingga rasa pening itu tidak hilang-hilang sampai sekarang.

Meski demikian, Pak Tugino tidak tega untuk menanyakan langsung kepada Inem. Dibiarkannya putri semata wayangnya itu istirahat lebih dulu.

Yang mengusik pikiran Pak Tugino adalah sikap Inem itu sendiri, yang lain dari biasanya. Ia pulang dengan tiba-tiba tanpa memberi kabar lebih dulu. Dan ketika sampai di rumah, tidak ada raut ceria sebagaimana ia tunjukkan selama ini.

Kopi panas dan singkong rebus yang disediakan Mbok Waginem pun dibiarkan saja hingga dingin. Hilang selera Pak Tugino, memikirkan Inem yang masih saja tidur di kamarnya hingga hari merangkak siang.

Jika benar hamil, lantas dengan siapa? Tidak mungkin dengan Pono, karena mereka hampir tak pernah ketemu dalam dua tahun terakhir. Adakah pria lain? Berbagai pertanyaan muncul di kepala Pak Tugino. Dan tentunya hanya Inem yang bisa menjawabnya.

Namun siapapun pria yang telah menghamili, semua akan menimbulkan masalah. Karena itu merupakan aib besar bagi keluarganya di mata masyarakat. Semakin pening kepala Pak Tugino jika memikirkan semua itu.

“Kopinya kok tidak diminum, Pak. Ini singkongnya juga masih utuh,” kata Mbok Waginem, yang tiba-tiba muncul dari belakang.

Pak Tugino tergagap mendengar suara istrinya.

“Iya ini baru mau tak minum,” jawab Pak Tugino dengan salah tingkah.

“Pak, kenapa ya Inem kok tiba-tiba pulang. Wajahnya juga sepertinya sedang sedih,” kata Mbok Waginem, yang ternyata punya pemikiran sama dengan suaminya.

“Nanti kita tanya saja kalau Inem sudah tidak capek. Mungkin dia nggak krasan pengin pulang,” kata Pak Tugino, yang masih merahasiakan kata-kata Bu Dokter agar istrinya tidak kaget.

“Simbok pernah dengar kabar Pono tidak, sepertinya sudah lama juga ia merantau belum pulang-pulang,” lanjut Pak Tugino mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Iya ya Pak, sudah lama juga kita ndak pernah dengar kabar Pono. Kemarin saya ketemu simboknya juga sempat rasan-rasan, sebaiknya cepat kita kawinkan saja Pono dengan Inem,” kata Mbok Waginem.

“Mengawinkan anak sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab kita sebagai orang tua. Tapi bagaimana dengan mereka, sudah siap atau belum,” sahut Pak Wagino, yang sebenarnya pikirannya masih terganggu dengan kemungkinan kondisi Inem sekarang tengah hamil. (Bersambung)

Read previous post:
Rimpang Kunir Turunkan Kolesterol Jahat

PEMANFAATAN bahan alami berkhasiat bagi kesehatan sudah lama diterapkan. Sebagian bahan alami dapat diolah menjadi makanan serta minuman dengan cita

Close