Pulang dengan Hati Bimbang


SEPANJANG perjalanan naik bus menuju ke kampung halamannya, Inem tidak bisa duduk dengan tenang. Ia merenungi nasibnya yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Sesekali Inem memegang perutnya, yang kini tengah mengandung janin buah perbuatan keji anak majikannya sendiri.

Sementara pikirannya membayangkan wajah Pono, yang mencibir dirinya karena pacarnya pulang dengan kondisi berbadan dua. Pono yang sudah dijodohkan orang tua sejak kecil, pasti akan menolak dirinya. Inem pun merasa sangat hina dan tidak pantas menjadi istri Pono.

Jika memikirkan hal itu, sebenarnya Inem takut untuk pulang. Tapi lantas harus kemana dirinya pergi? Kembali ke rumah Bu Dirga tidak mungkin, karena ia sudah pamitan. Dan tidak mungkin pula Hendri mau bertanggung jawab atas janin yang kini tengah dikandungnya, sekalipun itu jelas merupakan darah dagingnya sendiri. Inem juga takut dengan kemarahan Bu Dirga maupun Pak Dirga, jika mereka tahu semua peristiwa itu.

Tak ada tempat yang paling baik untuk dituju kecuali ke rumah orang tuanya. Meski sebenarnya Inem juga takut sekali, dengan kemarahan yang bakal diterimanya setelah orang tuanya mengetahui tentang kehamilannya.

Berbagai kemungkinan yang terjadi pun bekecamuk di pikiran Inem. Ia bingung, nanti harus berkata apa kepada bapak simboknya. Diam saja tidak mungkin, karena pasti perutnya akan semakin membesar. Tapi jika terus terang, pasti akan ditanya siapa laki-laki yang telah menghamili dirinya.

Bingung lagi, apakah terus terang itu akibat perbuatan Hendri, atau mencari kambing hitam ada laki-laki lain? Semua jawaban pasti tetap mengandung risiko untuk terus dikejar.

Inem pun hanya pasrah. Bagaimana nanti situasinya di rumah, maka ia akan mengikuti saja. Inem juga sudah bertekad, apapun yang akan dilakukan orang tuanya, dirinya akan menerima dengan ikhlas. Bahkan seandainya nanti ia diusir pergi karena dianggap mempermalukan keluarga, Inem juga sudah siap sekalipun belum memikirkan harus pergi kemana.

Tidak terasa perjalanan bus sudah sampai di tujuan akhir. Hari masih agak petang, karena perjalanan tadi terhitung lancar. Udara dingin menjambut kedatangan Inem di kota, yang sudah dua tahun ia tinggalkan. Pikiran yang kusut ditambah tidak bisa tidur semalaman, membuat kondisi fisik Inem menjadi lemah. Saat melangkah hendak keluar dari bus, tiba-tiba pandangannya gelap dan tubuh Inem pun terkulai lemas. Beruntung ada orang terdekat yang berhasil menahan tubuh Inem untuk tidak jatuh ke bumi. (Bersambung)

Read previous post:
MERAPI-DOKUMENTASI FKY Penampilan Dozan Fujiwara di Panggung Seni FKY 30.
Dozan Fujiwara Bawa Angin dari Timur

PENAMPILAN musisi Jepang Dozan Fujiwara dalam ‘Shakuhachi Concert’ di Panggung Pasar Seni FKY 30, Rabu (8/8/2018) mampu memukau penonton. Konser

Close