PENUNGGANG BAHU (2-HABIS) – Selalu Beli Bunga Makam di Samping Warung

KEMBALI pada suasana pos keamanan kantor. Dua petugas tengah menikmati kudapan yang mereka terima dari Ruslan, perbincangan pun tetap berlanjut.
“Kamu tahu arah rumah pak Ruslan?” tanya Sunar.
“Lha ya tahu, kan sampeyan, saya, dan pak Ruslan itu arahnya sama dan tidak terlalu jauh Mas. Kenapa tow?”

“Lihat, ini sudah hampir setiap hari pak Ruslan tidak makan jatah makan siangnya, dan malah dikasihkan kita.”
“Ow, iya… Tapi saya tahu alasannya Mas. Mungkin beliau ngosongin perut buat jajan di warteg deket simpang jalan yang sering kita lewati. Saya sering liat pas enggak ada shift jaga.”
“Nah itu!” tegas Sunar pada rekannya.

“Maksudnya gimana tow Mas!” Kusnul semakin kebingungan.
“Saya juga beberapa kali lihat beliau berhenti di depan warteg. Tapi tidak pernah lihat beliau beli atau pun masuk di warteg. Beliau itu selalu beli bunga makam di samping warung makan itu!” ungkap Sunar dengan kesaksiannya.

Ruslan tiba di rumahnya yang besar namun bangunan itu tampak kering dan pucat, bergegas menutup pintu dan membiarkan ruangan gelap. Tidak ada orang lain di tempat itu selain dirinya. Dibuka bungkusan plastik yang dibawanya. Dua keranjang bunga makam benar-benar dirinya beli. Suara bunyi perut makin nyaring. Ditata apik pada piring atas meja, matanya membulat tak berkedip, bibir dengan anggun menari meneteskan air liur, melahap lembaran bunga yang wangi dicecapnya seperti kembang gula berperisa daging.

Melihat inangnya berkeringat, sosok seperti tokek bermata darah menampakkan diri tepat di bahu Ruslan. Dijilatnya keringat-keringat yang bercucuran di kepala tuannya, bahkan suara jilatan itu menggetarkan tikus-tikus yang ketakutan di atap. Entah wujud apa yang
selalu Ruslan gendong, yang selalu lapar akan bunga makam. (Ichsan Nuansa)

Read previous post:
Pati Banjir Bantuan

PATI (MERAPI) - Sebanyak 6.996 Lembaga Keagamaan menerima bantuan dari Pemkab Pati. Bantuan sebesar Rp 5.247.000.000, adalah untuk tali asih

Close