SILUMAN LINTAH RAWA KADUNG (3) – Mengangkat Penghuni Rawa Kadung Sebagai Anak

SESUAI petunjuk yang diberikan Sasih , Parwani menuju tempat yang dimaksud sebuah rawa yang tak begitu luas letaknya jauh terpencil disebuah desa ratusan kilometer dari tempat tinggalnya rawa yang sunyi yang sekelingya banyak ditumbuhi pohon besar
Parwani langsung menemui lelaki tua yang tinggal di gubuk di pinggir rawa, ia memang juru kunci tempat itu.

“Apa niatmu sudah bulat nduk! Kalau tidak mantap urungkan saja niatmu sebab berat syaratnya” kata sang juru kunci setelah maksud dan tujuan Parwani menemuinya. Istri Darman itu sudah bertekad bulat ia ingin mengubah nasib secara cepat , ingin seperti Sasih hidup mentereng banyak uang tanpa berpayah payah lagi.

Mendengar tekad Parwani yang sudah bulat, sang juru kunci lalu memberikan syarat yang harus dipenuhi. “Pertama dan kedua nanti akan ada ijol (pengganti) untuk apa yang kau dapatkan dan kau nikmati, ketiga kau harus mengangkatnya sebagai anak salah satu penghuni rawa ini. Setiap selasa kliwon ia akan datang untuk menyusui apa yang ada ditubuhmu, sediakan tempat khusus bisa dipinggir kolam sawah pokoknya lingkungan yang ada airnya.”

Mungkin karna sudah dibutakan bayangan kekayaan yang akan didapatkan nanti , syarat yang dikatakan juru kunci dianggapnya syarat gampang yang mudah dipenuhi tanpa bertanya lagi apa sebenarnya maksud syarat tersebut. Parwani pun pulang dengan perasaan senang. Dirumah Parwani merahasiakan jalan sesatnya pada suaminya Darman, bukankah suaminya sudah pasrah pada dirinya untuk melakukan apa saja demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Pada suatu hari ia bercerita tak akan lagi menjadi buruh cuci, ada teman yang memberinya modal untuk berbisnis berjualan ikan , dan ketika mulai berjualan ternyata dari hari kehari semakin laris hingga mendapat keuntungan yang berlipat-lipat .

Parwani pun menjadi pedagang besar. Disaat itulah tragedi terjadi anak bungsunya tiba-tiba jatuh sakit dan tak berapa lama meninggal. Parwani baru menyadari inilah ijol pertama yang harus dipenuhi anak tercinta tumbal kekayaannya yang mulai melimpah ruah.
Beralasan untuk melupakan rasa sedih karna kehilangan anak tercinta Parwani mengajak suami dan dua anaknya pindah keluar daerah. Hal ini sengaja dilakukannya karna sudah mendengar gunjingan orang-orang dilingkungannya tentang hidupnya yang berubah drastis kematian anaknya dihubung-hubungkan sebagai wadal (tumbal) kalau Parwani telah muja (pelaku pesugian) dulu hidup miskin kini kaya raya. (Siswanto)

Read previous post:
Mantan Kasir Koperasi Diduga Gelapkan Rp 9,3 Miliar

KARANGANYAR (MERAPI) - Seorang mantan kasir koperasi simpan pinjam (KSP) Tiga Pilar Makmur (TPM) Colomadu, Puji Lestari (28) dilaporkan ke

Close