POCONG KEMBAR TIGA (1) – Pura-pura Jadi Hantu Menakuti Orang

KEJADIAN yang menghebohkan ini sampai sekarang masih sering menjadi pembicaraan warga di sekitar makam Wirokabluk. Sebenarnya peristiwa itu sudah lama yaitu tahun 1995.

Adanya pocong kembar tiga itu terjadi karena ulah dua pemuda yaitu Surata (nama samaran) dan Dariya (nama samaran). Surata sering dipanggil Cekot karena tangannya pendek pendek sedangkan Dariya sering dipanggil Gendut karena gemuk perutnya gendut.

Kedua anak itu sering menjadi pergunjingan warga dikampung dekat makam Wirokabluk.

Surata dan Dariya itu tamatan SMP tidak mau melanjutkan sekolah meskipun orang tuanya menyuruh melanjutkan sekolah. Surata pernah bekerja di toko besi tetapi karena ada masalah dengan majikannya maka ia dikeluarkan sehingga sampai sekarang ia masih nganggur.
Sedangkan Dariya selepas SMP lalu membantu orang tuanya sebagai tukang batu.

Memang orang tuanya termasuk tukang batu yang berpengalaman sehingga banyak sekali langganannya. Dariya sering-sering juga mengikuti ayahnya bekerja di tempat yang jauh.

Surata dan Dariya merupakan teman yang akrab. Waktu masih sekolah berangkat sekolah dan pulang sekolah selalu bersama-sama. Di kampung pun juga selalu bersama-sama.

Kedua anak tersebut mempunyai kegiatan yang kurang baik antara lain suka nongkrong-nongkrong bersama teman-temannya di pinggir jalan. Di samping itu juga suka mengganggu kalau ada wanita yang lewat.

Mereka juga suka merokok meskipun untuk membeli rokok sering minta uang kepada orang tuanya. Yang paling tidak disenangi orang tuanya keduanya kalau bangun tidur itu sampai siang bahkan harus dibangunkan.

Pada waktu nongkrong keduanya sering menakut-nakuti orang lewat pura-pura jadi hantu. Kegiatan seperti itu akhirnya kena batunya.
Pada waktu di Pengeranan ada wayang kulit semalam suntuk Surata dan Dariya siap-siap untuk menakuti orang-orang yang pulang dari nonton wayang.

Pengeranan itu tempat petilasan Sunan Geseng. Di situ masih ada gumuk (tanah yang menyembul ke atas) dan disitu dibangun sebuah gedung untuk tempat pertunjukkan wayang kulit setahun sekali. Pertunjukkan wayang kulit itu diadakan pada saat “merti desa” atau sehabis panen padi, sebagai ucapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah melimpahkan rejeki berupa padi. (Drs. Subagya)

Read previous post:
Vaksinasi Covid-19 Tahap Kedua Dimulai Hari Ini

TEMANGGUNG (MERAPI) - Vaksinasi Covid-19 tahap kedua di Kabupaten Temanggung dimulai Selasa (23/2) hari ini dengan sasaran 5000 orang pelayan

Close