DAPUR KANTOR (1) – Ada Suara Kaca Pecah di Luar

KECIPAK angin malam mulai beranjak gahar. Kantor kian ditinggalkan jelaga wajah, orang-orang telah pulang ke rumah. Hanya Fauzi yang masih membetulkan catatan pekerjaannya, monitor komputer masih setia pada wajahnya. Ditenggelamkan naskah pekerjaannya hingga terkantuk.
Di kantor dirinya yakin jika masih tersisa dua bungkus kopi dan gula. Fauzi bergegas mengambil apa yang diinginkannya di dapur yang menyambung dengan ruang kantor. Dicari saklar dapur dan ditekannya, anehnya lampu dapur tidak menyala.
Pyar!

Fauzi terkejut dengan suara kaca pecah di luar kantor. Apa mungkin angin di luar makin kencang sehingga pot gantung milik rekannya berayun dan terpental mengenai jendela atau pecah. Dirinya ke luar ruangan. Suasana tampak riuh dengan gelagak angin yang menerpa pohon, dasi Fauzi sampai terbawa arus mata angin.

Bergegas dicari suara pecah itu. Di siku-siku luar dinding kantor dan halaman. Semua baik-baik saja. Merasa angin bernaung kencang Fauzi kembali memasuki ruang kantornya yang sederhana, namun di luar dirinya melihat dari jendela bahwa ruangan dalam tak terang lagi.
“Apa mati listrik ya?” tanya fauzi pada dirinya sendiri.

Fauzi masuk ke dalam ruangan. Teramat gelap ruangannya, dicarinya saklar namun dirinya menuju sebuah ruangan. Terdapat sebuah ruangan yang terang. Ruangan itu adalah dapur, dirinya mencoba memasuki tempat tesebut, dan disitu terlihat pak Aji menyeduh kopi sambil duduk di ujung dapur.
“Pak Aji? Katanya pulang? Kok di sini?Bukannya tadi lampu dapur mati ya?”

“Iya Mas, saya ada pekerjaan yang belum selesai. Dari mana Mas? Ayo ngopi dulu.”
Fauzi merasa aneh. Tadi dirinya hanya keluar sebentar untuk mencari asal suara kaca pecah, namun sama sekali tidak melihat orang masuk atau gerbang pagar kantor terbuka.
“Mana motormu pak Aji? Kok saya tidak lihat?”

Pak Aji tetap meminum kopi dan mengabaikan pertanyaan Fauzi. Dirinya melihat perbedaan dengan sikap pak Aji, mata rekannya hanya melihat jendela dapur tak bertirai serasa menikmati pohon sawo yang dihujam angin. (Ichsan Nuansa)

Read previous post:
Tego Larane Ora Tego Patine

TIM dokter yang merawat Marni sudah berjuang dengan keras untuk melawan penyakit kanker yang dideritanya. Bahkan ada niat untuk membawanha

Close