JALUR SEPEDA (1) – Biar Cepat, Lewat Jalur Setapak

KEDUA peseda sayup-sayup mulai kelelahan. Ayunan kaki sudah tidak sekencang sore tadi. Puncak bukit sudah selesai mereka tuntaskan dan akan pulang.
“San, Santo. Di pertigaan itu kita ambil kanan terus kiri masuk jalur setapak saja.”
Terang Maryanto.
“Lho, enggak lewat jalur tadi?” tanya Santo yang kebingungan.
“Nggak, biar cepet. Tadi pas berangkat aku lihat banyak peseda yang keluar dari jalan setapak itu, sepertinya tembus langsung ke jalur aspal.” Kembali Maryanto menjelaskan kepada Santo.

Santo mengikuti Maryanto dari belakang, dirinya pasrah pada pilihan kawannya tersebut. Terlebih tidak ada penerangan di kaki bukit tersebut, padahal sore terlihat ramai pejalan atau pengendara yang dirinya temui. Namun, sekarang hanya dua orang tersebut.
Lampu sepeda hanya sepenggal cahaya, hanya menyoroti jalanan setapak yang kadang halus dan bergeronjal. Meski gelap, Santo masih dapat melihat jelas kawannya di depan. Beberapa kali dirinya meminum air persedian dan kini adalah tegukan terakhir.

Di sisi lain pandangan Maryanto mulai kabur. Gelap semakin legam, begitu pula dengan bunyi jangkrik yang surut menjadi sunyi. Ditengoknya Santo semampunya di belakang, masih terlihat sorot lampu dan kilasan stiker helm milik kawannya tersebut.
Beberapa pemandangan gelap tidak menelan segala yang ada di depan Maryanto, masih terlihat dahan-dahan pepohonan dan jalan tanah setapak.

Maryanto melihat bulan di atas, arah yang ditujunya pasti tidak salah. Kompas pada jam tangan canggihnya juga berbicara demikian, semua aman dan sesuai jalur terlebih arah jalan juga lurus tidak berbelok. Namun dirinya ingin lebih mengetahui di mana posisinya, karena sudah dua puluh menit mereka menerobos jalan setapak itu. Bukankah tadi sore banyak pesepeda yang keluar dari jalan ini pikirnya. (Ichsan Nuansa)

Read previous post:
Calon Pendonor Plasma Konvalesen Diutamakan Laki-laki

Close