Jalan Lain ke Alam Gaib

PAGI ini kecelakaan bus lagi-lagi terjadi. Entah sudah berapa banyak menelan korban. Minggu lalu truk terguling, bulan lalu mini bus entah siapa lagi yang akan menjadi korban. Samingun yang hendak pergi bekerja langsung berhenti. Ia bersama warga turut mengamati lokasi kejadian. Anehnya bus tersebut terguling di tengah sawah padahal jalan aspal sangat luas tanpa lobang sedikit pun. Jalannya hanya lurus tanpa tikungan. Rasanya aneh jika melihat kondisi jalan yang begitu baik. Samingun semakin yakin bahwa kecelakaan tersebut ada hubungannya dengan kejadian yang dialaminya semalam.

Malam itu, sepulang menonton wayang Samingun hampir saja bernasib sama dengan bus yang terguling. Pasalnya jalan yang ia lewati tiba-tiba memiliki belokan ke arah selatan. Awalnya samingun akan mengambil jalan tersebut karena jalan yang akan dilaluinya ramai sekali. Ada puluhan warga berjalan beriringan menutupi jalan seperti layaknya pawai. Untung saja Samingun masih memiliki kesabaran. Ia lebih memilih bersabar ketimbang mengambil jalan pintas. Awalnya Samingun sempat heran sejak kapan ada jalan ke arah selatan. Ia pun berfikir realistis khawatir jika mengambil jalan tersebut akan tersesat.

“Pak semalam disini ada pawai, tapi kok seperti Topo Bisu semua peserta hanya diam.”
“Jam berapa pawainya?”
“Sekitar jam dua pagi pak.”
“Lah, jangan-jangan yang kamu lihat itu bukan manusia Le?”
“Wah bapak ini mau menakuti saya ya!”

Kecelakaan tersebut sama persis dengan kecelakaan-kecelakaan sebelumnya. Awalnya para pengemudi melihat pawai kemudian akhirnya berbelok kearah selatan untuk menghindari kemacetan. Namun tak disangka jalan yang di laluinya bukanlah jalan yang sebenarnya. Para Korban pun terkejut mendapati dirinya berada di tengah sawah. Karna sebelum kecelakaan terjadi yang mereka lihat lebih nampak seperti hutan dengan pohon-pohon rindangnya.

Samingun pun mengingat kejadian semalam. Tiba-tiba saja bulu kuduk Samingun bergidik. Sepertinya ada benarnya perkataan Lelaki tua itu, yang ia lihat bukanlah manusia. Pawai yang ia lihat tiba-tiba hilang begitu saja hanya hitungan detik. Awalnya Samingun mengira bahwa rombongan pawai itu berbelok. Tapi rasanya tidak mungkin karena jalannya hanya ada satu arah tanpa belokan. Samingun pun bergegas menuju kantor.

Setibanya di kantor teman-temannya langsung menanyai Samingun dengan berbagai pertanyaan. Ia begitu gugup karena ternyata ia juga hampir menjadi korban kecelakaan maut. Orang-orang pun menasehati Samingun untuk berhati-hati melewati jalan tersebut. Pasalnya Samingun tergolong penduduk baru, maklum saja baru satu minggu ia di pindah tugas. Apa yang dikatakan teman-temannya persis dengan kejadian yang Samingun alami.

“Apa kamu semalam melihat pawai?”
“Ia ada pawai di tempat kejadian!”
“Untung kamu tidak bernasib sama dengan pengemudi bus itu.”
“Semalam itu aku ngantuk berat seperti kena sirep hampir saja berbelok keselatan karna nampak seperti jalan aspal.
Malam itu, Samingun membaca doa berulang kali akhirnya bisa terbebas dari rasa kantuk. Sama sekali tidak terpikir di benaknya ternyata ada alam lain yang ingin membawanya ke sana. Sepulang kerja Samingun mengamati tempat kejadian. Kini sudah terpasang plang di sepanjang jalan Manunggal bertuliskan “Rawan Kecelakaan” Samingun pun tak hentinya membaca doa. (Iis Suwartini UAD)

Read previous post:
Sejumlah Santriwati Terinveksi Covid-18, Asrama Putri Dikosongkan

KARANGANYAR (MERAPI) - Asrama sebuah pesantren di Paulan, Colomadu yang berisi 200-an santriwati dikosongkan. Cara tersebut untuk mencegah penularan Covid-19

Close