WEWENYA MINTA SUAMI (3) – Minta Tubuhnya Ditutup Kulit Kambing

LELEMBUT itu disuruh pergi dengan imbalan mereka sudah diberi saji-sajian kesukaan mereka. Hampir semuanya puas atas saji-sajian itu. Namun ada yang
tidak mau pindah karena sajiannya kurang.
Paranormal (dukun) itu segera wawancara dengan lelembut tersebut.

Setelah ia melepas sukmanya dan memasukkan prewangan ke dalam raganya suaranya berubah bukan suara dhukun tadi tetapi suara prewangannya yang telah
masuk (manjing) di dalam tubuh Dhukun tadi. Prewangan itu menanyakan kepada jrangkong : “He jrangkong kamu tidak mau pergi minta apa?”
Jawab nya : “Aku minta tubuhku ditutup dengan kulit kambing. Mendengar permintaan itu Bondan bingung bagaimana caranya malam-malam harus menyembelih kambing.

Ayah Bondan membawa jaket yang terbuat dari kulit kambing dan diserahkan kepada prewangan itu. Kemudian prewangan itu memberikan kepada jrangkong. Dengan menari-nari jrangkong bilang : “Makasih anget anget aku mau pergi”.
Kemudian prewangan bertanya lagi kepada anak gendruwo yang belum mau pergi: “Le kamu masih minta apa lagi tidak mau pergi?”
Jawabnya : “Aku minta air kelapa gading yang menghadap (mulung) ke tenggara”.

Mendengar jawaban itu Bondan menyuruh tetangganya untuk memetik kelapa gading menghadap ke tenggara yang ada di depan rumahnya. Tetangganya pun memetik kelapa itu. Kemudian memberikan kelapa itu kepada Bondan. Selanjutnya Bondan membelah kelapa itu, airnya dituangkan dalam gelas dan diberikan kepada prewangan.
Prewangan memnyampaikan kepada anak gendruwo : “ Le ini permintaanmu saya kabulkan segera pergi”.
Anak gendruwo itu menjawab : “Makasih seger seger seger saya mau pergi”.

Masih ada satu yang ngeyel tidak mau pergi yaitu gadis (prawan) anak wewe. Maka prewangan segera memanggil gadis wewe itu : “Nduk kamu masih
minta apa lagi tidak mau pergi dari sini?”.
Jawab gadis wewe itu : “saya masih jomblo saya minta suami yang ngganteng”.

Prewangan yang ada ditubuh dhukun itupun menjawab permintaan gadis itu : “Ya tunggu sebentar nanti calon suamimu itu akan segera datang”.
Prewangan itu pun kontak (nilpon) Ki Jamenggala penguasa Sendang Tawitan : “Halo Ki apakah di wilayah sini masih ada jejaka gendruwo”.
Jawab Ki Jamenggala : “Masih ada dua yang satu defabel yang satu normal”. (Drs. Subagya)

Read previous post:
Selama Pandemi, Nihil Pemeliharaan Rutin Aset Pendidikan

KARANGANYAR (MERAPI) - Fasilitas pendidikan milik pemerintah rawan rusak dan terbengkalai selama pembelajaran di luar sekolah. Untuk mengatasinya, manajemen sekolah

Close