MENDAPAT TELPON DARI ALAM GHOIB (1) – Tidak Bekerja Demi Merawat Ayahnya

TETANGGAKU di desa dulu pernah mengalami kejadian yang aneh. Sampai sekarang masih menjadi pembicaraan warga desa saya. Ngadi (nama samaran) yang mengalami kejadian itu.
Ia adalah pekerja serabutan yang paling banyak dijalani adalah tukang batu. Kalau ada proyek pembuatan gedung ia selalu ikut dan dipercaya oleh mandornya sebab rajin dan hasil kerjanya juga baik. Hampir tidak pernah libur karena pembuatan gedung sekolah terus menerus.

Ia tidak hanya bekerja di desanya tetapi sampai tempat yang jauh karena mengikuti pemborong. Kalau tidak ada proyek ia sering diminta tetangganya untuk memperbaiki rumah yang rusak (renovasi) Ngadi tidak hanya tukang tetapi pekerjaan-pekerjaan lain juga bisa seperti ia sering diminta tetangganya untuk membawakan kelapa ke pasar.
Suatu ketika ia tidak bekerja karena ayahnya jatuh sakit dan stroke. Berkali-kali ayahnya masuk rumah sakit, ia selalu menungguinya. Ngadi saudaranya hanya satu yaitu kakaknya (merantau di luar Jawa).

Ibunya tiga tahun yang lalu meninggal dunia karena sakit diabetes. Ibunya meninggal dalam usia yang masih muda yaitu 40 tahun. Ia tidak pernah periksa di rumah sakit. Pada waktu dibawa ke rumah sakit memang sakitnya sudah parah maka tidak tertolong. Waktu masih hidup ia kerja keras dan tidak memikirkan kesehatan dirinya.

Setelah ibunya meninggal Ngadi hidup bersama ayahnya yang sudah sakit-sakitan. Kehidupan keluarga itu sangat sederhana. Karena ayahnya sakit Ngadi hidup sebagai tulang punggung keluarga. Ayahnya sebagai petani kecil karena sawah atau pun pekarangannya sangat sempit. Maka di samping mengerjakan sawahnya sendiri ia juga mengerjakan sawahnya orang lain. Hasilnya dibagi menurut kesepakatan bersama.
Ngadi 2 bulan tidak bekerja karena merawat ayahnya yang sedang sakit. Sebulan lagi keluarga Ngadi akan kendurian (slametan) istilah di desa itu adalah sedekah.

Adat di desa itu kalau ada orang yang meninggal dunia selalu diadakan slametan (sedekah). Kendurian yang selalu diadakan adalah sur tanah, yaitu kendurian yang diadakan waktu orang meninggal dunia. Sur tanah dari kata ngesur tanah yaitu waktu membuat liang kubur itu tanahnya diangkat. Kemudian kendurian ke 7 hari sesudah orang itu meninggal dunia, kendurian ke 40 hari sesudah meninggal dunia.
Kendurian ke 100 hari sesudah orang meninggal dunia. Terakhir menyeribu (nyewu) kendurian sesudah 1000 hari. Adat itu kelihatannya sekarang mulai ditinggalkan. (Drs. Subagya)

Read previous post:
Percepat Sembuhnya Influenza dengan Ciplukan

  BAHAN alami yang memiliki khasiat obat bisa bersumber dari bagian suatu tanaman, misalnya daun, buah, kulit batang dan akar.

Close