Siluman di Hutan Larangan

HUTAN ini terletak 15 Km ke utara dari arah kota Magelang. Sekitar 50 tahun lalu, belum dibangun papan-papan untuk rumah penduduk. Kondisinya masih hutan lebat. Warga seputaran hutan itu kerap mencari hasil hutan. Sela-sela tanah yang bisa ditanami dipakai untuk berladang. Beberapa ada yang suka berburu, terutama laki-laki.

Kendati boleh merambah hutan, namun ada satu pantangan. Warga dilarang memasuki daerah larangan. Jangan sampai menerobos sampai jauh ke tengah-tengah hutan. Orang dewasa yang paham larangan itu tak berani melanggar. Apalagi anak-anak. Orangtua sering menakuti ada siluman di tengah hutan.

Peristiwa mencekam yang terjadi adalah hilangnya orang ketika bermain-main di rimbunnya hutan. Pernah tiga orang warga pergi ke hutan saat mentari sepenggalah. Ketika petang, hanya dua orang yang kembali. “Sudah saya cegah. Tapi, dia ngeyel. Terus mengejar buruan,” ujar salah seorang dari dua orang yang tersisa itu.

Ternyata, tiga orang itu sedang berburu. Tapi, satu orang berburu sampai jauh demi binatang yang sulit dikejarnya. Mendengar kabar itu, ketua kampung memerintahkan untuk mencari. Bukannya tak mati-matian mencari satu orang yang hilang itu, namun memang tak ada peninggalan jejak sedikit pun. Orang yang dicari seolah-olah lenyap ditelan bumi.

Hilangnya orang masih bisa dihitung dengan jari. Bagaimana pun, satu-dua orang hilang tetap peristiwa memilukan. Sebab, ada keluarga yang ditinggalkan. Fenomena tak diketemukannya orang yang menerobos hutan larangan menguatkan anggapan adanya siluman. Bertahun-tahun warga meyakini keberadaan siluman di tengah hutan. Jika mengganggu wilayah kekuasaannya, dampaknya bisa fatal. Apakah orang yang telah masuk wilayah hutan larangan itu bisa melarikan diri? Inilah persoalannya.

Suatu ketika, seorang tokoh mumpuni melakukan olah batin dengan alam. Dia menginjakkan kaki di hutan larangan itu. Tak beberapa lama kemudian, suasana sekitar terasa senyap. Binatang-binatang tak bersuara. Desir angin entah kemana. Kaki masih bisa digerakkan. Dia berjalan hendak keluar dari wilayah hutan larangan. Tapi, ada semacam hal tak kasat mata. Kemanapun kaki melangkah hanya berputar-putar. Akhirnya kembali ke titik semula. Dengan ilmunya, seorang yang mumpuni itu tetap bisa keluar. Dia tak menceritakan cara ampuh keluar dari “perangkap” hutan larangan. Hanya bercerita tentang kondisi yang dihadapi jika orang berani memasuki hutan larangan. Ada sosok berjanggut dengan taring di mulutnya.

Sebagaimana lazimnya, cerita satu mulut ke mulut lain bisa lebih dramatis dengan ditambahi “bumbu-bumbu” cerita. Dari satu warga ke warga lain dimungkinkan tak sama ceritanya. Yang pasti, hutan larangan itu menyeramkan. Ada silumannya. Kini zaman berbeda. Hutan itu hanya meninggalkan kenangan. Penduduk mulai beranak-pinak. Meskipun tak sepadat di kota, rumah-rumah mulai merambahi hutan. (Armawati)

Read previous post:
PENGUKUHAN ASOSIASI KWT “PROJO WANITA MUKTI”: Jadi Pioner Kemandirian Pangan Keluarga

SEWON (MERAPI) - Bupati Bantul, Drs H Suharsono berharap Asosiasi Kelompok Wanita Tani (KWT), Projo Wanita Mukti yang telah dibentuk

Close