Mendapat Teguran di Siang Hari

PONIRAH seorang buruh tani. Ia terbiasa bekerja di sawah atau ladang milik tetangganya. Selama ini Ponirah terkenal sebagai buruh tani yang rajin dan cekatan. Beberapa hari yang lalu, Bu Marni, salah seorang tetangga desanya meminta untuk menyiangi rumput di sawah. Ponirah langsung menyanggupi, karena sawah itu letaknya tidak terlalu jauh dari rumahnya.

Sebelum berangkat ke sawah Bu Marni, Ponirah menyiapkan air minum dalam botol sebagai bekalnya. Meski tak ada teman kerjanya, Ponirah berencana menyelesaikan pekerjaan itu dalam satu hari saja.

Sawah Bu Marni letaknya memang hanya beberapa meter dari jalan kampung. Selebihnya hanya sawah-sawah milik warga lain yang menghampar hingga berhektar-hektar luasnya. Keadaan itu membuat Ponirah semakin ingin menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin.
Waktu hampir mendekati pertengahan hari, Ponirah sudah beberapa kali meminum air yang dibawanya tadi. Saat mengusap peluh dan menahan terik, tiba-tiba Ponirah mendengar sebuah teguran, “Kerja yang rajin ya, Nak. Yang bersih.”

Ponirah memperhatikan sekeliling, tidak ada siapa-siapa. Sedangkan suara tadi terdengar teramat jelas di telinganya. Ponirah kembali melanjutkan pekerjaannya.

“Jangan takut! Aku hanya menemani. Aku akan membantumu membersihkan rumput-rumput ini.” Suara itu terdengar lagi.
Ponirah kembali memperhatikan sekeliling. Tetap tidak ada siapa-siapa. Ia lalu merasakan bulu kuduknya meremang. Tanpa pikir panjang, Ponirah lalu bergegas pulang. Ia tidak mau mendengar sapaan itu untuk yang ketiga kalinya.

Sesampainya di rumah, sambil mengatur napas Ponirah lalu menceritakan kejadian itu pada ibunya.
“Mungkin itu penunggunya. Karena dulu orangtuanya Bu Marni memang memagari semua sawah dan ladangnya dengan makhluk-makhluk seperti itu. Mereka kadang menampakkan diri atau menyapa pada siapa saja yang bekerja di sana. Apalagi kalau dia bekerja sendirian,” jawab ibunya yang mengetahui riwayat dan silsilah keluarga Bu Marni.
Ponirah makin ketakutan. Sejak saat itu ia tidak mau bekerja sendirian di sawah milik Bu Marni. Meski pendapatannya berkurang, tapi dia tidak mau mendapati teguran yang tak terlihat lagi. – Nama samaran. (Lintang Kinanti)

Read previous post:
Makna Tahun Baru Hijriyah

PERGANTIAN tahun Hijriyah dari 1441 ke tahun 1442 yang baru memasuki hari kedua ini mengingatkan kepada kita semua bahwa jatah

Close