Pawon Bu Marto Ambruk Berulangkali

PARA tetangga masih saja memperbincangkan pawon bu Marto yang kembali ambruk. Sejak kepindahannya di rumah baru, hidup bu Marto diliputi kecemasan. Pasalnya bukan pertama kalinya, baru seminggu pawon tersebut berdiri kokoh kini kembali ambruk. Desas-desus yang tak mengenakan terdengar di telinga bu Marto. Ada beberapa yang mengaitkan dengan ilmu gaib bahkan ada yang mengiranya memelihara pesugihan. Mereka mengira bu Marto penganut pesugihan kandang bubrah. Hal tersebut dikarenakan kisah yang dialami bu Marto mirip pesugihan kandang bubrah. Kandang bubrah merupakan pesugihan yang mewajibkan si pemilik rumah merenovasi rumahnya sebagai syarat ritual. Warga yang memiliki pesugihan tersebut kerap merenovasi rumahnya. Sementara bu Marto sendiri mengira ada yang tidak senang dengan dirinya dengan mengirim teror misterius. Mereka pun saling menaruh curiga satu sama lain.

Geram dengan ucapan warga serta tidak ingin berburuk sangka, bu Marto mendatangi orang pintar. Bu Marto diminta menggelar ritual pada malam jumat kliwon. Tiba di hari yang dijanjikan bu Marto dan keluarganya menggelar ritual dengan menebarkan kembang 7 rupa di sekeliling rumah. Mereka tidak diperbolehkan tertidur hingga fajar menjelang. Mereka berjaga sampai dini hari sembari membaca doa memohon pertolongan pada Tuhan.

Udara dingin tiba-tiba berhembus membuat bulu kuduk bergidik. Suasana seketika hening tidak ada bunyi jangkrik ataupun tokek di pekarangan rumah. Mereka saling berpandangan dan merasakan firasat yang tak mengenakan. Tidak lama terdengar suara ringkihan kuda. Tentu saja suara ringkihan kuda bukanlah hal yang wajar. Angin yang begitu kencangnya kembali menerpa pawon bu Marto hanya dalam hitungan detik. Pawon yang sedang dalam proses perbaikan kembali porak-poranda. Mereka semua masih belum percaya apa yang mereka lihat.

Pawon rumah mereka ternyata berada di jalur perlintasan kereta kencana para lelembut. Desa Sumberwangun merupakan desa perlintasan yang menghubungkan kerajaan lelembut penguasa Gunung Merapi dengan Pantai Selatan. Sehingga desa tersebut kerap dilewati para lelembut. Kebetulan letak pawon bu Marto merupakan jalan bagi lelelmbut sehingga kerap tertabrak kereta kencana, pantas saja berulangkali ambruk. Sejak peristiwa malam itu akhirnya pawon bu Marto dipindah menghadap ke arah timur agar tidak terjadi lagi hal-hal yang tidak diinginkan. Mereka kini dapat hidup dengan tenang. Tidak ada lagi warga yang menggunjing mereka. Mereka pun tidak lagi berburuk sangka. (Iis Suwartini)

Read previous post:
Terakumulasi 318 Kasus di Sukoharjo, Tambahan Positif Corona Didominasi Tanpa Gejala

SUKOHARJO (MERAPI) - Penambahan kasus positif virus corona di Sukoharjo terakhir didominasi dari pasien tanpa gejala. Perkembangan data dari Gugus

Close