KASIH YANG TAK TERPUTUS (1) – “Ora Ilok Dolan Sampai Sambeng Kolo”

SUARA bising ambulan berdengung di penjuru Desa. Semua berbondong-bondong melihat. Ibu Tarni yang membawa serta anaknya dalam gendongan tiba-tiba berhenti di depanku, “ora meh ndelok le?” dia terlihat penasaran akan reaksiku. Aku masih terdiam di tempat dan merespon, tak terasa bu Tarni semakin menjauh. Terlihat mobil bernuansa putih dan suara sirene membelah Desa.

Lima jam sebelum mobil putih itu datang. “Rizqi kau tahu nggak kemarin aku lihat si Rio bapaknya ketabrak truk di perempatan jalan sana,“ Adi menjelaskan ke Rizqi dengan bergidik ngeri.
Rizqi hanya mendengarkan tanpa bersuara dan tetap fokus dengan kartu AS yang dibawanya. Dio dan Andi masih tak bergeming sama sekali. Rizqi masih melanjutkan ceritanya.

“kau tahu arwahnya gentayangan lho, katanya dulu beliau pakai aji-aji buat kekebalan saat masih muda”, terlihat Dio dan Andi mulai tertarik. “setelah tertabrak beliau masih bisa berdiri dan duduk di pinggir trotoar, sambil meminta air putih kepada penolong yang sempat menolong beliau.”

Semua akhirnya terfokus dengan bahan pembicaraan Adi. “Padahal beliau itu tertabrak sampai terpental jauh tapi nggak ada yang berdarah sama sekali dan hanya memar di dahi dan sikunya saja,“ Adi menengok kanan kiri “Tahu nggak saat tertabrak beliau nggak merasakan sakit sama sekali dan malah tersenyum kepada orang-orang di sekitar yang menolongnya.”
Mata Adi melotot Andi dan Dio mulai merinding. “Gila sakti banget ya bapaknya Rio?” semua mengangguk tanda setuju.
Sore ini diakhiri dengan perbincangan mengenai kisah mistis. Kemudian bergegas pulang.

Sebelum Maghrib, ora elok nak dolan sampai sambeng kolo kata sesepuh Desa ini. Entah kenapa itu dijalankan sampai zaman milenial. Cerita kalau waktu sambeng kolo atau Maghrib itu adalah waktu dimana setan keluar dan mencari anak kecil untuk diganggu.
Pernah terjadi waktu itu ada seorang anak yang nekat keluar di waktu itu dan menghilang seketika. Para warga berkumpul di rumah pak Lurah meminta bantuan. Semua membawa alat yang berbunyi nyaring seperti panci, wajan, kentongan dan lainnya. Semua warga percaya bahwa itu perbuatan wewe gombel sejenis makhluk halus/setan yang menculik anak kecil di waktu sambeng kolo. Cerita ini terus bergulir sampai sekarang. Desa kami sangat menghormati budaya daan tata krama nenek moyang. (Hailatur Rosida)

Read previous post:
Selingkuhi Tetangga, Pak Dukuh Digrebek Warga

Close