Simbah Kakung Shalat di Halaman Rumah

SIMBAH putri selalu bilang pada Anggi, “Ojo dolan wayah candi kala, ora elok”. Begitu juga simbok selalu bilang, jangan main di luar rumah kalau sore menjelang adzan Maghrib, nanti diculik Betara Kala, dibawa di pohon melinjo. Di rumah simbah pada tahun 90-an memang masih rimbun dengan pepohonan. Jika siang hari akan terasa sedap dipandang, karena selain bentuk pohon-pohon rindang, terutama pohon melinjo seperti pahatan karena ukuran besarnya membuatnya berlekuk-lekuk. Juga ada taman kecil, sehingga menjadi bertambah sedap.

Namun pemandangan akan segera berubah memasuki waktu Ashar, membawa keteduhan dan keheningan karena efek matahari sore, juga pekerja yang pulang dari glidhik. Suasana tersebut berubah lagi ketika waktu mendekati adzan Maghrib, di mana pepohonan menciptakan bayang-bayang akibat matahari senja. Saat itu suasana benar-benar sunyi dan waktu seakan melambat. Jalan raya di depan rumah tergolong sepi dan di seberangnya terdapat makam pahlawan.

Biasanya Anggi akan tenang bila sudah berada di dalam rumah bersama keluarganya dan mendengar adzan Magrib. Namun celakanya, dia terpaksa keluar rumah sebelum Magbrib, karena harus menemani sepupunya membeli sesuatu di warung. Jarak warung dan rumah simbah memang tidak jauh tetapi mereka tetap saja sampai ke halaman rumah ketika orang-orang sedang melakukan perjalanan ke masjid.
Saat itu hati Anggi berdebar ketakutan, khawatir Betara Kala menculiknya lalu membawanya di atas pohon melinjo. Kemudian ia mendapati pemandangan ganjil. Simbah kakungnya berada di kursi batu yang panjang, di depan ruang tamu. Simbahnya bersimpuh di atas sajadah, lengkap dengan sweater abu-abu. Anggi yang masih balita tersebut sudah mengerti bahwa orang yang sedang shalat tidak boleh diganggu, jadi dia membungkam tidak jadi bertanya pada sepupunya, mengapa simbahnya shalat di halaman rumah dan waktu belum lagi adzan Magrib.

Pemandangan saat itu memang belum terlalu gelap tetapi juga kurang terang untuk terus berada di luar rumah. Anehnya setelah masuk ke rumah, Anggi mendapati simbah kakungnya berada di dalam. Sedangkan sepupunya tidak membahas pemandangan ganjil di luar rumah. Anggi tidak pernah bertanya kepada sepupunya ataupun simbah kakungnya tentang keganjilan yang dia saksikan. – Semua nama samaran – (Rian Zain)

Read previous post:
ANGSURAN TETAP DARI AWAL HINGGA AKHIR – KPR BNI Syariah Kian Digemari Milenial

PROGRAM Tunjuk Rumah yang merupakan salah satu program Kredit Perumahan Rakyat (KPR) dari PT Bank BNI Syariah kian digemari milenial.

Close