Ketika Dua Bapak Rebutan Sinden

ADA ungkapan Jawa berbunyi ‘ Witing tresna jalaran saka kulina’. Sebuah percintaan yang terjalin karena seringnya bertemu.
Adalah sebuah cinta segitiga yang melibatkan Pak Gar, Pak Mun, dan Nyi Mlenuk. Ketiganya anggota grup karawitan ‘Waton Suko’ yang kerap mengiringi pagelaran wayang kulit. Teman-temannya satu grup pada menyayangkan terjadinya cinta segi tiga tersebut. Pasalnya, Pak Gar dan Pak Mun sudah beristri dan Nyi Mlenuk, yang adalah seorang pesinden, sudah bersuami.
Mungkin setan belang telah merasuki hati ketiganya begitu dalam. Saran, nasihat, dan sembur-tutur dari rekan- rekannya tidak ada yang mampu mengubah perilaku tidak terpuji itu.

Pagi itu grup karawitan ‘Waton Suko’ baru saja menyelesaikan tugasnya mengiringi sebuah pagelaran wayang kulit. Pak Gar, Pak Mun, dan pesinden Nyi Mlenuk, begitu pula pengrawit yang lain bersiap akan pulang.
Terjadi perang dingin antara Pak Gar dan Pak Mun. Kedua lelaki setengah baya itu berebut akan mengantar pulang Nyi Mlenuk. Bagi Nyi Mlenuk tidak masalah akan diantar oleh siapa pun. Pak Gar atau Pak Mun sama saja.

Rupanya kedua orang tersebut masih mempunyai rasa malu. Keduanya bersepakat mencari tempat sepi. Untuk berundi. Yang menang berhak mengantar pulang Nyi Mlenuk. Namun dari undian tersebut tidak didapatkan keputusan siapa pemenangnya. Hati keduanya telah sama-sama tersulut api asmara. Cekcok mulut pun tidak terelakkan. Untung keduanya masih bisa menahan diri untuk tidak beradu fisik.
Tiba-tiba…plok…plok! Pipi kanan Pak Gar dan pipi kiri Pak Mun kena kaplok keras sekali. Keduanya merasakan sakit yang luar biasa atas kaplokan itu. Mereka berdua heran. Betapa tidak?! Keduanya tidak merasa mengkaplok antara satu dan lainnya.

“Huh bikin malu saja. Orang sudah tua kok pada berulah. Pulanglah sendiri- sendiri. Nyi Mlenuk sudah dijemput suaminya,” ujar sesosok orang tua berbusana Kejawen yang tiba-tiba berada ditengah keduanya.
Pak Gar dan Pak Mun ndomblong. Dalam hitungan detik sosok berbusana Kejawen tersebut hilang dari pandangan keduanya. “Lho…priyayi sepuh tadi Eyang Senggono to?”, ujar Pak Gar kepada Pak Mun.
Kedua orang itu mahfum jika Eyang Senggono adalah sesepuh group karawitan ‘Waton Suko’ yang dua bulan lalu meninggal dunia. -Semua nama samaran. (FX Subroto)

Read previous post:
PASANG SURUT KERAJAAN TARUMANEGARA (6) – Menggali Saluran untuk Pertanian dan Mencegah Banjir

KEHIDUPAN perekonomian masyarakat Tarumanegara berupa pertanian dan peternakan. Hal ini dapat diketahui dari isi Prasasti Tugu, yakni tentang pembangunan atau

Close