Ditolong Oleh Kakak Sulung

Ditolong Oleh Kakak Sulung

LEWAT mass media cetak maupun elektronik BMKG telah menyebar informasi, jika cuaca di perairan laut selatan pulau Jawa sedang tidak bersahabat. Nelayan dihimbau untuk tidak melaut. Namun, Pono dan Wasno, tidak peduli dengan himbauan tersebut.
“Lha kalau tidak melaut, anak dan isteri mau makan apa?” begitu kilah Pono dan Wasno, nelayan kakak-beradik tersebut. Keduanya tersenyum ketika melihat mendung di atas kepalanya lewat. Buru- buru mendorong perahu fibernya ke tengah laut.
“Nah apa kataku. Yang namanya ramalan, bisa benar tapi juga bisa meleset,” ujar Pono sambil menebar jalanya. Beberapa ikan besar dan kecil berhasil ditangkap. Baru asyik memunguti ikan di jala, tiba-tiba bertiup angin cukup kencang. “Ah, sebentar juga reda,” ucap Wasno.

Ternyata ujaran Wasno tidak seperti yang diharapkan. Angin bertiup semakin kencang. Tak hanya itu. Mendung tebal dalam waktu singkat memayungi mereka. Disusul hujan lebat disertai petir dan geledek bersahut-sahutan. Ombak setinggi tiga meter mengguncang perahu mereka. Diangkat ke atas untuk kemudian dihempaskan ke bawah.
Memang, Pono dan Wasno bukan nelayan kemarin sore. Jam melautnya sudah puluhan tahun. Namun, diguncang ombak begitu rupa, tidak juga bisa menguasai keadaan. Perahunya terbalik.

“Tolooong…tolooong…!” Hanya itu yang keluar dari mulut Pono dan Wasno. Namun siapa pula yang akan mendengar teriakan tersebut dalam situasi seperti itu. Tiba-tiba mata Pono melihat sesuatu. Begitu pula pengelihatan Wasno, adiknya. Keduanya sekilas melihat Warto datang melemparkan dua buah pelampung.
Berkat pelampung tersebut tubuh Pono dan adiknya selamat. Keduanya diketemukan tergeletak di tepi pantai tidak jauh dari desanya, dalam keadaan masih bernafas. Ada pun perahu fibernya tidak diketahui rimbanya.

“Oh, lewat Kang Warto, Tuhan telah menyelamatkan kita berdua, Was,” ujar Pono kepada Wasno ketika mereka telah siuman. Pono dan Wasno adalah adik kandung Warto. Ketiganya memang merupakan nelayan tangguh dan pemberani. Namun sayang, dalam hal melaut, ketiganya sering kurang perhitungan. “Kaduk wani kurang deduga,” kata teman-temannya.
Belum hilang dari ingatan kedua nelayan tersebut, Warto, Kakak sulungnya, duapuluh tahun lalu tewas digulung ombak laut selatan ketika sedang melaut, mencari ikan. Semua nama samaran. – Semua nama samaran – (Andreas Seta RD)

Read previous post:
DETAK BUKIT CINTA WATU PRAHU GUNUNG GAJAH BAYAT (1) – Aroma Cinta yang Masih Menggema

Bukit Cinta ang juga dikenal dengan nama Bukit Cinta Watu Prahu, terletak di Desa Gununggajah Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Dinamakan

Close