Memancing Tengah Malam Ditemani Kuntilanak

EDI (nama samaran) adalah perjaka tua yang memiliki hobi memancing. Setiap tengah malam buta ia sering pergi memancing ke kanal atau semacam waduk tempat penampungan air yang digunakan untuk mengaliri sawah di sekitarnya. Biasanya ia pergi memancing bersama
kawannya, Rimen (nama samaran). Tapi malam itu Rimen sedang pergi ke rumah saudaranya. Jadi Edi pergi memancing sendirian di kanal.
Malam itu, sebelum berangkat memancing Edi merasa resah. Ada perasaan tak nyaman yang menyusup ke relung hatinya.
“Ada apa ya kok perasaanku enggak enak kayak gini,” batin Edi.

Dengan segera Edi membuang jauh-jauh pikiran buruknya mengingat ia sudah berjanji pada abangnya bahwa malam ini ia akan membawa pulang banyak ikan untuk dimasak bersama seluruh keluarganya besok malam.
Sesampainya di sana, hawa mencekam langsung menyapa Edi yang tengah mempersiapkan alat pancing. Suasana yang gelap ditambah semak-semak di sekitar yang bergoyang akibat ditiup angin menambah aura mencekam malam itu.
“Huh. Serem juga ya mancing sendirian kayak gini,” gumam Edi.

Plung. Bunyi kail yang dilempar ke dalam air terdengar jelas. Edi ambil posisi duduk bersila di pinggir kanal. Sesekali ia memerhatikan sekitar. Barangkali Rimen urung ke rumah saudaranya dan memilih menemaninya memancing. Tetapi, sudah satu jam lebih tidak ada tanda-tanda kedatangan Rimen.
“Malam ini kamu beneran tidak datang, Men,” desah Edi.

Setiap kali angin berembus bulu kuduk Edi meremang. Hawa dingin yang merasuk begitu berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Lebih terasa dingin. Sesekali Edi merapatkan jaket kulitnya.
Tidak seperti biasanya, baru sepuluh menit umpannya sudah disambar ikan, tetapi kali ini sampai satu jam setengah tak ada tanda-tanda umpannya dimakan ikan. Rasa suntuk pun menyergap Edi. Untuk mengusir suntuk Edi menyalakan sebatang rokok dan mengisapnya
dalam-dalam.

Saat sedang khidmatnya mengisap rokok. Edi mencium bau wangi bunga bercampur anyir darah. Dada Edi kembang kempis. Tubuhnya berkeringat dingin. Tiba-tiba Edi merasa ada seseorang di samping kirinya. Dengan hati-hati Edi menoleh ke samping. Dan dari jarak satu meter duduklah sosok perempuan berpakaian putih dengan berlumur darah yang menghadap
ke tengah kanal. Sedetik kemudian perempuan berambut panjang itu menoleh ke arah Edi.
Tampak wajahnya yang hancur, penuh darah, dan sangat menyeramkan.
Tanpa aba-aba Edi lari tunggang langgang meninggalkan alat pancingnya di pinggir kanal. (Ni’matus Sholihah)

Read previous post:
MERAPI-HUMAS SLEMAN Bupati Sleman Sri Purnomo menyerahkan alat penyemprot disinfektan untuk 25 puskesmas yang ada di Sleman.
Penanganan Covid-19, Pemkab Sleman Siapkan Rp 105 M

SLEMAN (MERAPI) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menyiapkan anggaran Rp 105 miliar, untuk pengendalian dan penanganan Covid-19 oleh Gugus Tugas

Close