Prahoto Kuna Ada Penunggunya

TEMPO doeloe, orang Jawa menyebut truk, alat transportasi untuk mengangkut barang, dengan sebutan prahoto. Prahoto jaman dulu bagian depannya kebanyakan ada ‘hidung’- nya. Yaitu ruang untuk meletakkan mesin. Truk jaman sekarang rata- rata pesek tanpa ‘hidung’.
Baru sebulan Pak Sukarta ikut juragan truk babah Kiem. Babah Kiem punya truk tujuh unit. Salah satunya, truk kuna, dipercayakan kepada pak Sukarta, sopir truk yang punya ‘jam terbang’ cukup tinggi.

Prahoto yang sehari- hari dikemudikan Pak Sukarta memang cukup tua. Namun mesinnya masih oke. Tidak heran jika Pak Sukarta sangat enjoi saat mengemudikan truk uzur tersebut manakala harus mengantar barang ke lain kota.
Sore itu menjelang Azar Pak Sukarta mengirim berpuluh karung kedelai ke kota Wonogiri. Sekitar empatpuluh kilometer dari kota asalnya. Bongkar muatan barang baru selesai selepas Maghrib. Bersegera Pak Sukarta kembali pulang.

Memasuki dusun Dangkelan, setengah kilometer sebelum sampai rumah juragannya, tiba- tiba mesin prahoto mati. Diuthak- athik sebentar lalu distarter, mesin hidup. Sopir berpengalaman itu gembira. Namun baru berjalan limapuluh meter, mesin kembali ngadat. Truk mogok di tengah jalan.
Kembali diuthak- uthik dan dicoba distarter, mesin hidup lagi. Namun aneh. Mesin truk tidak berbunyi : rheeeeeng…. , tapi: “heeem…”. Laiknya orang mendengus.
“Lho…apa- apaan ini?”, gumam Pak Sukarta sambil melompat turun dari kabin prahoto. Bergegas dia membuka tutup ruang mesin di bagian ‘hidung’ truk.

Lhadalaaah…! Pak Sukarta kaget. Njondhil ke belakang. Matanya melihat, di atas mesin truk ada sesosok lelaki duduk dengan santai. Tidak berfikir panjang Pak Sukarta lari tunggang- langgang meninggalkan prahoto uzur tersebut. Dengan nafas masih ngos- ngosan Pak Sukarta melaporkan kejadian itu kepada juragannya. Babah Kiem nampak tidak terkejut. Hanya mengangguk- anggukkan kepalanya.
“Maafkan aku, Pak Sukarta. Hari ini aku lupa membuat sesajen untuk prahoto tua itu. Harap tahu saja, jika dalam kabin mesin itu ada penunggunya. Selapan hari sekali harus aku beri sesajen”, ujar babah Kiem.
Pak Sukarta baru tahu jika prahoto tua yang setiap hari dia kemudikan itu di bagian mesinnya ada penunggunya. Maklumlah dia baru sebulan ikut babah Kiem. – Semua nama samaran. (FX Subroto)

Read previous post:
Agama Fitrah

Close