TEROR DI SEMERU (2-HABIS) – Gara-gara Buang Pembalut Semarangan

MELIR dan kawan-kawan turun dari puncak Semeru saat sore, sehingga baru memasuki Oro-Oro Ombo tengah malam. Melir awalnya takut untuk lanjut, tapi teman-temannya memaksanya agar tetap berjalan. Mereka ingin cepat sampai ke bawah. Mau nggak mau, Melir pun menuruti teman-temannya.
Nah, di sinilah teror yang sebenarnya dimulai. “Waktu itu hampir jam 12 malam”, kata Melir. Ia berjalan di depan, sementara di belakangnya berurutan: Bombom, Haidir, Ucup, Atikah, Asep.

Berbeda dengan siang, padang rumput Oro-Oro Ombo pada tengah malam memancarkan aura keseraman yang hakiki. Selain gelap, lolongan serigala saling bersahutan menciutkan nyali siapapun yang mendengarnya.
Lalu tiba-tiba, di antara lolongan serigala itu, sayup-sayup Melir mendengar suara seorang perempuan.
“Hihihi..”
“Suara apaan itu, Ki?” Rupanya Bombom juga mendengarnya.
“Ssst,” Ki Melir memberi isyarat supaya Bombom tenang. Namun, ia sendiri tak bisa menahan rasa takutnya karena suara itu terus terdengar, bahkan makin dekat.

Tiba-tiba, dari bawah padang rumput Oro-Oro Ombo, muncul sosok mengerikan yang nggak pernah Melir bayangkan sebelumnya. Ia menyaksikan sosok berwajah kelabu, mengenakan pakaian serba hitam. Tapi, yang paling menakutkan ialah matanya: berwarna merah menyala.
Sosok bermata merah itu muncul di hadapan Melir secara mendadak. Mengagetkan. Tapi, Ki Melir berusaha tenang walau langkahnya terhenti dan limbung.
“Ki, kenapa berhenti?” Bombom yang berada tepat di belakangnya tak bisa menahan diri untuk tak penasaran.

Ki Melir hanya diam mematung, antara takut dan panik. Si Mata Merah juga diam di hadapannya. Lantas, ia melesat ke arah barisan belakang, seperti ingin menyasar Atikah. Melir bersiap untuk lari ke arah Atikah, tapi malah terjatuh. Bombom, Haidir, dan Ucup segera membantu Melir berdiri.
Dalam keadaan jatuh, Ki Melir menyaksikan Si Mata Merah bertengger di atas carrier Atikah selama beberapa saat. Lalu, bruuukk! Atikah menjatuhkan tas besar itu. “Aduh, berat!” Ia mengeluh. Asep membantu Atikah memasang kembali carrier itu pada punggungnya. Untung, Si Mata Merah sudah menghilang. Ki Melir hanya diam. Ia mengira teman-temannya nggak menyadari penampakan mengerikan itu.

Keesokan harinya, saat sudah berada di homestay, barulah Melir berani membuka pembicaraan. Rupanya selain Melir, hanya Asep yang menyadari sosok itu. Kata Asep, Si Mata Merah sudah bertengger di atas carrier Atikah sejak mereka tiba di puncak Semeru. Di antara mereka berenam, memang hanya Melir dan Asep yang paling peka. Barangkali karena mereka seorang santri yang sudah lama mondok dan ilmu batinnya terasah dengan baik.
Karena penasaran, Ki Melir curiga Atikah sudah melakukan perbuatan yang mengganggu salah satu penunggu Semeru. “Barulah saat itu, Atikah mengakui kesalahannya. Ternyata dia buang pembalut sembarangan. Lha, jin itu kan suka sama darah menstruasi,” kata Melir. (Afra)

Read previous post:
BI DIY LUNCURKAN QRIS: Pembayaran Non Tunai Lebih Aman dan Efektif

PAKEM (MERAPI) - Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY resmi meluncurkan pembayaran non tunai melalui aplikasi Quick Response Code Indonesian Standard

Close