Teror Bantingan Pintu Selama 14 Hari Tidur Balai Latihan Kerja

CERITA horor kali ini datang dari pengalaman seorang bernama Yanto (39) yang pernah melakukan praktik kerja lapangan (PKL) di salah satu balai pelatihan di Yogyakarta. Meskipun pengalaman ini ia alami sekitar tahun 2000, namun pengakuan dari pihak pengelola yang menyebutkan masih ada makam Belanda tertinggal saat pembangunan gedung itu, membuat hal mistis akan terus mengelilinginya hingga saat ini.

Warga asal Selomartani, Kalasan, Sleman ini menuturkan mengalami hal di luar nalar bersama 11 orang temannya saat menjalani PKL di Yogya. Kondisi keuangan yang saat itu terbatas karena masih ramainya krisis moneter saat itu, membuat ia dan teman-temannya memutuskan untuk meminta izin tinggal di dalam balai pelatihan.

“Kami rombongan dengan jumlah 11 orang berasal dari Kebumen. Dikarenakan uang yang pas-pasan waktu itu, kami bersama rombongan meminta izin kepada pengurus balai latihan tersebut untuk bisa diberi penginapan gratis, dengan menginap di lokasi praktik tersebut,” ungkapnya saat dikonfirmasi, Minggu (16/2).

Pihak pengelola pun memutuskan Yanto bersama teman lainnya menempati sebuah aula kosong yang biasa digunakan peserta PKL sebelum mereka. Ruangan berukuran 5×20 meter itu hanya ada tumpukan dipan yang tak dipakai ditaruh di pojokan ruangan.

“Kita diizinkan menempati ruang aula, seperti los berukuran 5×20 meter itu. Di sekitarnya terdapat gang kecil antar gedung yang digunakan untuk lahan hijau. Waktu itu ada pohon cemara yang persis di depan gedung,” jelasnya.

Tak butuh waktu lama, Yanto yang saat itu masih SMA merasakan merinding yang bukan main. Pasalnya, saat mereka berada di depan gedung itu, bau seperti ketela yang dibakar itu mulai menyengat di antara hidung mereka.

“Kita sudah merasa merinding saat mencium bau orang bakar ketela, tapi gak ada bakar-bakar di situ. Ya kalau bau ketela itu kan seperti ada genderuwonya,” tandasnya.

Hal lebih menyeramkan mulai dialaminya saat malam pertama dilalui di gedung yang baru dikenalnya beberapa jam itu. Sekitar pukul 12.00 malam semua sudah terlelap dalam tidurnya, mereka semua dikejutkan dengan suara bantingan pintu sebanyak tiga kali.

“Pada waktu itu kami terbangun karena mendengar pintu ditutup dengan dorongan yang kuat. Der.. der.. der.. sebanyak 3 kali dengan jeda 2 detik seperti orang marah. Kita pikir dengan suara keras itu seperti di sebelah telinga kita persis, padahal tidak apa-apa di ruangan itu,” jelasnya.

Merasa ada yang ganjil, kemudian dua orang di antara mereka memutuskan mengecek sekitar gedung dengan membawa sebuah senter. Namun, tak hanya ada suasana gelap dan tak ada siapapun kecuali mereka dan penjaga di depan gerbang balai latihan itu.

Setelah memastikan tak ada hal aneh, mereka kembali melanjutkan tidurnya. Namun selang setengah jam, suara hantaman itu kembali muncul dengan lebih keras. Suara hantaman pintu dengan kasar itu terus bersuara hingga memekakkan telinga mereka.

“Di dalam ruangan kan tidak ada angin, jadi suaranya terdengar keras banget. Seperti pas di samping telinga kita. Padahal tidak ada siapa siapa di situ. Tapi suara itu muncul lagi setelah kita mau tidur lagi, setiap setengah jam suara itu muncul dan hilang,” jelasnya.

Mereka yang semua tidur telentang berjarak di lantai beralasakan tikar itu akhirnya saling mendekat karena takutnya. Mereka mulai tidak berani untuk mengecek kembali dari mana suara menakutkan itu berasal. Namun hal itu justru membuat suara teror bantingan pintu itu terus terdengar hingga subuh.

“Sampai pukul 04.00 kita semua berusaha memejamkan mata karena takutnya. Akhirnya paginya kita cerita ke pengelola disitu, tapi bilangnya tidak ada apa-apa. Kalau dari cara ngomongnya seperti ada sesuatu yang sengaja ditutupi,” terangnya.

Tak berhenti di malam pertama saja, teror suara bantingan pintu berlanjut selama bermalam-malam hingga selama 14 hari mereka menginap di balai pelatihan. Setiap pukul 00.00, suara itu terus muncul hingga dua anak PKL itu memutuskan untuk menyewa indekos agar tidak diteror lagi.

“Itu sampai 14 hari kami PKL, terus diteror. Padahal kita sudah salam, kita baca-bacakan surat Alquran tapi gak mempan. Jadi kalau dalam tingkatan setan itu, ini pemimpinnya. Kita baca-baca juga gak mempan, teror itu terus ada. Sampai dua teman kita memutuskan ngekos di luar,” tegasnya.

Ketakutan serta kerugian dari mana suara itu berasal akhirnya terungkap saat mereka menyelesaikan masa PKLnya. Saat berpamitan, barulah pihak pengelola menceritakan hal yang disembunyikannya selama 14 hari itu.

“Pas kita pamitan, mereka langsung buka cerita. Bahwa memang itu suara dari ulah makhluk halus. Mereka ngomong kalau riwayat pendirian ini dulunya adalah makam Belanda, dan makamnya dipindahkan. Mungkin ada beberapa makam yang tertinggal,” ujarnya.

Pihak pengelola pun menunjukkan lokasi makam yang tertinggal dengan mengarahkan telunjuk jarinya ke salah satu tempat. Rupanya tempat itu adalah ruang aula yang ditempati anak-anak PKL selama ini.

“Telunjuknnya itu ternyata mengarah ke tempat tidur kami. Ya kami merasa lega akhirnya paham kenapa hal-hal itu terjadi. Tapi tetap saja merasa takut. Pengelolanya juga cerita dulu sampai ada yang ditemui kuntilanak sama noni belanda,” tutupnya. (C-8)

Read previous post:
DIGELAR TANPA PENONTON – Tempat Uji Coba PSS dengan Persib Bocor

SLEMAN (HARIAN MERAPI) - Panpel dan manajemen PSS Sleman bungkam terkait uji coba melawan Persib Bandung yang digelar Senin (17/2)

Close