Diajak Senior Tak Kuasa Menolak

JAM lima sore Barudi pulang dari tempatnya bekerja. “Dik Tami…aku pulang…”, teriaknya manja kepada istrinya. Barudi dan Tami adalah pasangan pengantin baru. Tiga bulan lalu mereka menikah.
Karena tidak ada respon, Barudi langsung masuk rumah. Dia heran. Di dalam rumah tidak ada siapa-siapa. Memang, rumah tidak begitu besar itu dalam kesehariannya hanya dihuni oleh mereka berdua.

Keheranan Barudi berubah menjadi kepanikan. Tetangga sebelahnya memberi tahu, jika pagi menjelang siang tadi, Tami keluar rumah bersama seorang pria. Keduanya tampak lengkap membawa peralatan naik gunung. Tetangga-tetangganya pada tahu, jika Tami adalah seorang pendaki gunung. Ditunggu sampai Isya Tami belum juga pulang. Dalam sekejap warga sekitar geger. “Mbak Tami hilang…! Mbak Tami hilang…!”, begitu ujar satu warga kepada warga lain.

Mbah Wargo, seorang warga sepuh sepulang dari Mushala sayup-sayup mendengar suara perempuan berteriak meminta tolong. Sendirian, dengan membawa sentolop Mbah Wargo mencari sumber suara tersebut. “Hah?!”, ucapnya heran. Ternyata suara meminta tolong itu berasal dari pucuk sebuah pohon kelapa setinggi duapuluh lima meter. Lampu senternya pun diarahkan ke pucuk pohon. Tampak seorang perempuan duduk ongkang- ongkang di atas sebuah kelopak daun kelapa.
Diamati dengan seksama, Mbah Wargo semakin heran. Betapa tidak?! Perempuan yang duduk ongkang- ongkang di ketinggian duapuluh lima meter itu tidak lain tidak bukan adalah…Tami, isteri Barudi. Mbah Wargo pun mengajak warga untuk menurunkan Tami dari pucuk pohon kelapa. Dengan sangat hati-hati Tami berhasil diturunkan.

Sampai di bawah, Tami tidak bisa bercerita banyak. Pasangan pengantin baru itu hanya berpelukan erat dan meneteskan airmata. Baru ketika sampai rumah, Tami bisa berceritera banyak.
“Tadi pagi itu aku diajak mendaki gunung sama Mas Kumbino, seniorku, Mas”, ujar Tami dengan sedikit terisak. Barudi kaget mendengar ujaran isterinya.
“Lho. Bukankah Mas Kumbino sudah meninggal dunia tujuh tahun yang lalu? Karena terjatuh di sebuah jurang di gunung Merapi?”, ujar Barudi spontan. Tami seperti tersadar dari mimpi. Dia baru ingat, Mas Kumbino, seniornya dalam komunitas pendaki gunung, tujuh tahun yang lalu memang tewas ketika mendaki gunung Merapi. Barudi dan Tami pun kemudian berdoa untuk arwah seniornya tersebut. – Semua nama samaran. (Andreas Seta RD)

Read previous post:
Petani Minggir Tangkap 1000 Tikus Sejak Januari

MINGGIR (MERAPI) - Memasuki musim tanam pertama (MT 1), sejumlah petani mulai bersiaga dengan menjaga area persawahannya dari serangan hama,

Close