Sepotong Tangan Mengingatkan untuk Berdoa

TENGAH malam Ardi sudah terlelap tidur. Saat itu dia berada di rumah sendiri. Tugasnya adalah jaga rumah saat seluruh penghuni rumah sedang berada di rumah sakit.
Sejak sore ibunya mengeluh sakit di bagian perut pertanda adiknya akan segera lahir. Sigap bapak mengantar ibu ke rumah sakit.

Sendirian di rumah Ardi menanti kabar gembira dari bapaknya. Namun sampai ba’da Magrib Bapak belum juga memberi kabar. Selepas salat Ardi mendoakan keselamatan ibu dan adik bayinya.
Malam semakin larut, Ardi tertidur di ruang tengah.

Sekitar pukul 12 malam, badan Ardi dibangunkan oleh seseorang. Punggungnya terasa ada yang mendorong hingga dia dalam posisi duduk. Setengah sadar Ardi duduk. Ingin menoleh namun tak bisa. Badannya kaku, kepalanya tak bisa digerakkan. Punggungnya terasa disangga oleh tangan kekar namun tak berbadan. Hanya tangan saja. Sepotong tangan.

Dengan setengah kesadaran Ardi ucapkan doa-doa. Perlahan Ardi mulai sepenuhnya sadar dari tidur. Dia tolehkan kepala, penasaran siapa yang menyangga tubuhnya. Padahal malam itu dia sendiri.
Namun nihil. Begitu menolehkan kepala. Tak ditemukan siapapun. Bulu kuduk Ardi berdiri. Bergegas dia mengambil air wudhu kemudian salat. Berdzikir dan memohon pertolongan pada Tuhan.
Tiitt.. tuuttt.. titt.. ttuuttt…

Panggilan masuk di handphone Ardi. Segera dia jawab.
“Adikmu sudah lahir Le, Alhamdulillah sehat, selamat. Perempuan,” kata lelaki yang menelponnya.
“Alhamdulillah, Pak,” jawab Ardi dengan bahagia.

Adik perempuan memang yang dia harapkan. Mungkin sepotong tangan yang menyangganya tadi mengingatkan Ardi agar tetap terjaga. Ikut prihatin dan berdoa saat ibu berjuang melahirkan adiknya. Bukan malah enak-enak tidur. – Nama samaran. (Indri Astuti)

Read previous post:
SENAM KOMUNITAS SEKARTAJI GAMPING-MLATI: Kembangkan Desa Wisata Dewi Rawe

MLATI (MERAPI) - Olahraga senam sudah membudaya di tengah masyarakat Kabupaten Sleman. Senam, bukan hanya untuk menjaga kebugaran tubuh dan

Close