Perang Mulut di Pinggir Kali

SORE-SORE Sangad, lelaki penghobi mancing, berjalan menyusuri tepi sungai Klirong. Ia akan mancing di kedung Luweng. Berbagai macam ikan banyak terdapat disitu.
Sampai tempat yang dituju Sangad langsung dhudhah- dhudhah peranti mancingnya. Feelingnya memang tajam. Belum lagi limabelas menit pancingnya dicemplungkan ke air, seekor ikan bader menggelepar- gelepar di ujung tali pancingnya.
Tanpa diketahui dari mana datangnya, tiba-tiba sesosok perempuan berdiri di sisinya. Wajahnya merah menahan marah. Tangan kirinya berkacak pinggang. Mulutnya nyerocos mengeluarkan kata-kata ketus dan kotor. Sangad dikatakan sebagai orang tidak tahu aturan. Mancing di kedung tersebut tanpa ijin dan tidak kulanuwun.

Tidak terima dituding sebagai orang tidak punya aturan, Sangad naik pitam. Dari mulutnya pun keluar kata- kata kotor sekenanya. Tak pelak terjadi perang mulut antara keduanya. Sosok perempuan itu meng- klaim, jika kedung Luweng adalah miliknya. Siapa pun tidak boleh seenaknya mancing disitu, tanpa izin darinya.
“Bah! Kalau ngomong jangan waton njeplak!” teriak Sangad saking jengkelnya. Mendengar kata itu sosok perempuan tersebut sepertinya amat sangat tersinggung. Cepat bagai kilat tubuh Sangad didorong kuat- kuat. Tidak siap menerima dorongan,…byuuur! Tubuh Sangad tercebur ke dalam kedung.
Beruntung, bersamaan dengan itu Sarjono, teman Sangad datang, juga akan mancing di tempat tersebut. Ditolonglah Sangad yang tertatih-tatih naik ke tebing sungai.

Dengan terbata- bata Sangad menceriterakan kejadian yang baru saja dialami. “Anehnya, habis mendorong aku, perempuan tersebut hilang dari pengelihatanku,” ujar Sangad menegaskan.
“Kan sudah kubilang, mancing disini harus minta izin dulu pada pemiliknya. Lha kamu, kulanuwun saja mungkin tidak,” ujar Sarjono panjang- lebar.
Diyakini oleh banyak warga, jika kedung Luweng ada penghuninya. Makhluk halus berwujud sosok perempuan bawel, judes, dan sok menang sendiri. Tidak aneh jika kedung Luweng diklaim sebagai miliknya. Warga setempat menyebutnya sebagai Nini Juweh. Sangad memang tidak tahu hal itu. Maklum, dia adalah orang baru di dusun tersebut. (Andreas Seta RD)

Read previous post:
PENGEMBARAAN SYEH JUMADIGENO DAN WASIBAGENO (8-HABIS) – Sumber Air Pernah Jadi Masalah

Pada masa lalu ketika Ki Ageng Wonolelo masih mengembara dan tengah menyiapkan pembukaan hutan, pernah merasakan kehausan. Kebetulan saat itu

Close