Menemukan Mayat di Kos-kosan

SEMINGGU sudah Ardi tinggal di kos-kosan yang baru. Ia pindah dari kos-kosan lama lantaran jauh dari kampusnya. Sebenarnya itu bukan masalah baginya. Terlebih sebagai seorang perantau dari Lampung, ia lebih memilih pindah karena ia ingin berhemat. Dan kos-kosannya yang baru harganya murah

Sebelumnya Ardi heran karena ada kos-kosan yang semurah itu. Tapi keheranannya hilang saat mengetahui induk semangnya sangat baik padanya. Teman satu kosannya juga ramah. Itulah yang membuatnya betah hingga seminggu ini.

Sampai suatu malam sekitar pukul 24.00 Ardi pulang, pintu kosnya tidak terkunci. Padahal ia ingat betul sebelum pergi, ia menguncimya. Tak hanya itu, semua lampu yang seharusnya mati justru menyala.

‘‘Perasaan pintu tadi sudah kukunci, kok terbuka. Lampunya juga sudah kumatikan, kok menyala?’’ gumam Ardi merasa aneh.

Karena sudah sangat ngantuk, setelah ganti baju Ardi langsung tidur. Tiba-tiba, samar-samar Ardi mendengar suara minta tolong. Padahal sudah jelas jam segitu semua orang sudah tertidur. Kali ini, Arya tak menghiraukannya.

Akhirnya ia bisa tertidur. Tapi ia berminpi aneh, ada seorang gadis di depan kos-kosan. Gadis itu merintih seolah sedang kesakitan. Karena penasaran, Ardi mendekatinya.

‘‘Tolong…. Tolong…. Tolong aku! Argghhh..’’ rintih gadis itu

‘‘Maaf, siapa mbak? Apa ada yang bisa saya bantu.’’ ujar Ardi.

Gadis itu lantas menoleh. ‘Gandrriik!!’, muka gadis itu hancur. Hanya terlihat kerangka tulangnya saja tanpa daging sedikitpun.

‘‘Mas… tolong aku… aku mohon…’’ rintih gadis itu seraya mengeluarkan darah dari mulutnya.

‘‘Tidaaaaak!!!’’ Ardi terbangun dari mimpinya. ‘‘Astaghfirullah… untung hanya mimpi.’’

Ardi lantas mengambil air putih dari dapur. Ketika ia menuju dapur, ia melihat ada rambut yang cukup panjang dari dalam tembok.

‘‘Eh… rambut apa ini. Apa kutarik saja ya.’’ gumam Ardi seraya menarik rambut itu

‘Gandriiikk!!’, ternyata itu rambut mayat orang yang sudah tinggal tulangnya. Melihat hal itu, Ardi langsung lari. Ia berlari keluar entah kemana. Untung bertemu Pak RT dan sekumpulan warga yang sedang ronda.

‘‘Loh, nak Ardi kok lari malam-malam ini ada apa?’’ tanya Pak RT.

‘‘Pak RT, tadi di kos saya ada mayat tinggal tulangnya. Karena itu saya lari. Saya bingung mau tidur dimana.’’ jawab Ardi.

‘‘Astaghfirullah. Jadi begitu? Ya sudah kamu tidur di rumah saya saja. Besok saya akan telepon polisi,’’ ujar Pak RT.

Keesokannya pengusutan dilakukan oleh pihak kepolisian setelah Ketua RT melaporkan kejadiannya. Dugaan sementara itu mayat korban pembunuhan. Walaupun penyebabnya belum ditemukan. Ardi memilih pergi mencari kos baru.

Ia berpamitan dengan induk semangnya dan berterimakasih. Ia berharap menemukan kos yang murah tapi tidak menakutkan. – Semua nama samaran –

(Septa Berlianto)

Read previous post:
Memetik Buah Ketekunan

KESABARAN Tarino secara pelan kemudian mulai menunjukkan hasilnya. Tanah nganggur yang ia beli, ia manfaatkan untuk membuka peternakan ayam yang

Close