Siapa yang Main Remi Tadi Malam?

ADA yang tidak wajar dalam permainan kartu remi malam itu. Sudah lima kali kasutan, perolehan nilai akhir peserta sama persis. Pak Guru Mijo memperoleh nilai +17, Miduk -5, Dalhar -20, dan Kisnadi -17 (semua bukan nama sebenarnya).

“Kok bisa ya? Sudah lima kali kasutan nilainya sama terus?” gumam Miduk.

“Gimana Pak Guru Mijo kok bisa begini?” sahut Dalhar melontar tanya kepada peserta main yang duduk di sebelahnya.

“Mungkin karena besuk tanggal 17,” jawab Pak Mijo lirih dan klecam-klecem.

Penampilan Pak Guru Mijo yang mengajar di SD Negeri Semanu, Gunungkidul pada acara jagong bayi di rumah Mino (bukan nama sebenarnya) ini memang agak berbeda. Sejak tadi dia lebih banyak diam dan berkali-kali menatap ke sudut atas ruangan. Mungkinkah dia sedang bermasalah? Ataukah karena kelelahan? Sebab dia baru saja tiba di rumahnya setelah menempuh perjalanan dari Semanu ke Godean dengan sepeda motornya?

Acara jagong bayi itu kemudian berakhir pukul 22.30, Para pejagong merasa kasihan pada tuan rumah. Karena beberapa hari sebelum melahirkan istri Mino dirawat di rumah sakit dan bayi yang dilahirkan juga dalam kondisi sangat memprihatinkan kesehatannya.

Pagi harinya selepas Subuh terdengar kabar bahwa anaknya Mino yang barusan lahir meninggal dunia. Jenazahnya akan dikebumikan hari itu juga pukul 10.00 di pemakaman Girilaya.

Miduk segera menyongsong Pak Guru Mijo yang datang ke rumah duka dengan sepeda motornya,

“Sudah mau berangkat ke Semanu, Pak Guru?”

“Kok berangkat gimana sih? Saya ini baru saja tiba dari Semanu lantaran ditelpon kalau di sini ada sripah?” jawab Pak Guru Mijo menatap, heran. Karena pertanyaan Dalhar Miduk serasa janggal baginya.

Miduk tersenyum, “Pak Guru, setelah saya pikir-pikir hasil remi kita semalam jebul menunjukkan tanggal meninggalnya si bayi. Sampeyan dapat nilai +17, saya -5, Dalhar -20, dan Kisnadi -17 jadinya kan 17-5-2017. Pas tanggal hari ini. Iya kan?”

“Semalam aku tidak remi, Duk! Sejak tiga hari yang lalu aku seminar di Wonosari dan baru berakhir tadi malam pukul 21.00. Masak aku remi di sini? Tidak mungkinlah ya?”

“Terus siapa yang remi sama aku, Dalhar, dan Kisnadi semalam?” Miduk terbengong heran.

“Ya terserah kamu, siapa? Tetapi yang jelas bukan saya,” kata Pak Guru tegas. (Akhiyadi)

Read previous post:
Dianggap Tak Realistis, Usulan Ganti Rugi Disikapi Berlainan

KARANGANYAR (MERAPI) - Warga calon penerima kompensasi pembebasan tanah untuk Waduk Jlantah, Jatiyoso meminta besaran ganti rugi Rp 1 juta

Close