Tidak Mau Jadi Dalang Kenthir

ADA peribahasa Jawa berbunyi “Kacang Ora Ninggal Lanjaran.” Begitulah kira-kira Wandiro (bukan nama sebenarnya), pria muda yang mendapat aliran darah seni dari generasi pendahulunya.

Ayah, Kakek, Kakek Buyutnya, bahkan Utheg-utheg Gantung Siwur-nya adalah dalang wayang yang kondang pada zamannya. Sebagai dalang muda yang belum begitu padat jadwal pentasnya, Wandiro sadar jika masih harus banyak belajar, agar bisa menyamai Eyang-eyangnya. Tak hanya itu, Wandiro juga gemar laku tirakat.

Malam itu Jumat Kliwon, Wandiro pergi laku tirakat ke Gumuk Panepen ditemani Lik Santun (nama samaran), pamannya.

Tengah malam antara sadar dan tidak sadar, dalam kondisi rem-rem ayam, Wandiro merasa badannya digoyang-goyang. Dia pun membuka matanya. Gandrik?! Ternyata yang menggoyang-goyang tubuhnya bukan orang, tapi sebuah wayang. Wayang kulit berujud tokoh Suyudana atau Duryudana, raja Hastina.

Aneh. Secara bisik- bisik, wayang Suyudana itu sepertinya memberi saran atau petunjuk. “Kalau kamu ingin menjadi dalang kondang, banyak menerima job, kamu harus berani tampil beda,” begitulah petunjuk yang disampaikan kepada Wandiro. Namun dalang muda itu tidak mudheng. Tidak tahu apa yang dimaksud dengan ‘tampil beda’ tersebut.

Wayang kulit Suyudana itu pun menjelaskan. “Misalnya dalam lakon Bharatayudha pada episode Rubuhan. Kalau kamu berani tampil beda, kamu pasti akan menjadi dalang tenar,” ujar wayang Suyudana itu tanpa ragu.

Wayang Suyudana itu lebih lanjut menjelaskan. “Dalam peperangan di episode itu aku kan mesti kalah melawan Werkudara. Nah, kau harus berani lain dari yang lain. Werkudara yang mampus. Dan aku yang menang. Sanggup?!” ucap wayang Suyudana menantang Wandiro.

Selesai berkata begitu dalam sekejap penampakan berupa wayang Suyudana itu hilang dari pandangan. Dalang muda itu segera membangunkan Lik Santun yang tertidur di sampingnya. Dan menceriterakan kejadian yang baru saja dialaminya.

“Biar bagaimana pun aku gak berani melaksanakan saran itu, Lik. Bisa- bisa orang pada menyebut aku Dalang kenthir. Aku gak akan mau merusak pakem,” ujar Wandiro tegas.

“Owalaaah…Duryudana kok memberi petunjuk. Ya mesthi cari benernya sendiri. Gak usah direwes, Ro!” timpal Lik Santun. (FX Subroto)

Read previous post:
PERJALANAN HIDUP PANGERAN NOTOKUSUMO (4) – Seorang Negarawan Tak Haus Ambisi

SEMASA muda Pangeran Notokusumo memiliki ketertarikan pada banyak hal. Selain tekun belajar sastra Jawa, dia juga banyak belajar tentang politik,

Close