Bakmi dan Daging Mentah pun Dimakan

SETIAP akan memulai pekerjaannya berjualan bakmi Jawa, Pak Samun (bukan nama sebenarnya) selalu melafalkan mantra bernuansa Kejawen. Diucapkan lirih: “Semar dhasar, Gareng ngereng, Petruk celuk-celuk, Srikandi kang ndodoli, Janaka kang nukoni.” Tanpa mengucapkan mantra tersebut menurut pengalamannya, dagangannya tidak laris-manis.

Seperti biasa menjelang Maghrib, Pak Samun sudah bersiap akan memulai pekerjaannya. Bersama istri dan dua orang tenaga pembantunya menuju warung bakmi miliknya yang berjarak seratus meter dari rumah tinggalnya.
Benar saja. Belum lagi warungnya dibuka, sudah terlihat beberapa orang menunggu. Begitu pintu dibuka, byuuur…mereka berebutan mencari tempat duduk yang tersedia. Baru beberapa saat, satu-dua orang terlihat tidak sabar menunggu.

Memasak bakmi menggunakan arang dan anglo sebagai kompor, adalah kebiasaan Pak Samun. Tak hanya itu, bakmi tersebut dimasak tidak berbarengan. Tapi porsi demi porsi. Tentu saja dengan konsekuensi, pembeli harus sabar menunggu.

“Cepat, Pak…! Sudah lapar nih…,” terdengar teriakan bersahutan dari ruang sebelah, tempat pembeli menunggu. Namun apa daya, Pak Samun tidak mungkin bisa memasak dengan cepat puluhan porsi bakmi pesanan pembeli, apalagi berbarengan.

“Saya bakmi goreng! Saya mi godhog! Saya magelangan!” teriakan puluhan pembeli hampir berbarengan dengan suara semakin lantang. Suasana menjadi gaduh dan riuh. Membuat Pak Samun kisruh dan buyar konsentrasi memasaknya.
Seperti ada yang mengomando, tiba-tiba mereka merangsek ke ruang Pak Samun memasak. Mengambil dan memakan apa saja yang ada disitu. Bakmi dan mihun yang masih mentah, daging ayam setengah matang yang ada di gantungan, kobis, sledri, loncang, dan brambang goreng. Bahkan kuah panas pun diteguk habis.

Belum lagi terdengar adzan Isya, dagangan Pak Samun sudah ludes. Bukan dibeli tapi dijarah oleh pembelinya. Dalam sesaat dia tersadar, jika yang menjarah dagangannya pasti bukan manusia biasa. Tapi rombongan makhluk halus dari jagat astral. Penjual bakmi itu tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa pasrah.

Namun Pak Samun kaget dan terheran-heran. Ketika dia membuka kotak tempat menyimpan uang, di dalamnya terdapat puluhan lembar uang kertas seratusan dan limapuluhan ribu. (Andreas Seta RD)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
TMMD Percepat Terwujudnya Kesejahteraan Masyarakat Desa

GAMPING (MERAPI) - Kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) merupakan salah satu pengabdian yang diberikan oleh TNI selaku aparat penegak

Close