Sidat Itu Bilang: “Matur Nuwun Yu…”


SEBELAS tahun lamanya Yu Rame dan Kang Tugur (keduanya bukan nama sebenarnya) membina rumah tangga. Namun belum juga dikaruniai anak. Kendati begitu pasangan suami-isteri sederhana itu tidak pernah berputus asa. Selalu berdoa dan berusaha agar keinginannya mempunyai keturunan terkabul.

Malam itu jam sepuluh, Yu Rame pulang dari rewang di rumah Mbakyunya yang punya gawe menikahkan anaknya. Limapuluh meter sebelum sampai rumahnya, Yu Rame melihat ada benda agak panjang bergerak- gerak, kloget- kloget. “Ya ampun ada ular di depan pintu”, gumam Yu Rame sembari mencari potongan kayu untuk nggebug.

Diamati dengan seksama, ternyata barang bergerak yang panjangnya satu meter lebih itu bukan ular, tetapi sidat. Sebangsa belut namun lebih besar dan lebih panjang. Anehnya, sidat tersebut berwarna keperakan.

“Pasti bukan sidat sembarangan”, batin Yu Rame. Instingnya mengatakan, binatang ini pasti membutuhkan pertolongan. Spontan Yu Rame mengambil ember plastik bundar. Dan diisi air setengahnya. Dengan penuh kasih sayang sidat itu dibopong lalu dimasukkan ke dalam ember berisi air. Sidat tampak tenang dan tidak menggelenjot- gelenjot lagi.

“Sidat ini harus secepatnya aku kembalikan ke sungai,” pikirnya. Di dalam rumah tidak ada siapa-siapa. Kang Tugur masih rewang di rumah Mbakyunya. Tanpa berpikir panjang dia melangkah menuju kandang becak di belakang rumahnya. Becak yang biasa dikendarai suaminya dia keluarkan. Ember berisi air dan sidat mengkilat itu dia angkat dan letakkan di jok depan.

Tanpa ragu dan tidak merasa malu Yu Rame yang tubuhnya pengkuh itu mengemudikan becak milik suaminya. Yang dituju, Kali Gantang. Berjarak sekitar dua kilometer dari rumahnya.

Sesampai di tepi kali, sidat berwarna keperakan itu dia bopong dan pelan-pelan diturunkan ke air. Sepertinya kegirangan, binatang sepanjang satu meter lebih itu berenang melenggang-lenggokkan badannya di dalam air. Bersamaan dengan itu lamat- lamat telinga Yu Rame mendengar suara: “Maturnuwun Yuuu….”

Tiga bulan sesudah itu Yu Rame merasa ada perubahan pada tubuhnya. “Tamu setia”- nya yang hadir setiap bulan, tidak kunjung datang. Oleh para tetangganya Yu Rame disarankan untuk memeriksakan badannya ke seorang Bidan.

“Selamat, Yu. Sampeyan positif hamil”, tutur Bidan desa tersebut sembari tangannya menjabat erat tangan Yu Rame. Yah mungkin begitulah cara Tuhan memberikan imbalan kepada Yu Rame yang telah berbuat kebaikan kepada makhluk lainnya. (Andreas Seta RD/Jbo)

Read previous post:
JEJAK PEWARIS TANGGUH ENTHO-ENTHO (4) – Tak Mudah Turunkan Ilmu Empu

Meskipun empu pada umumnya terjadi turun temurun, namun ternyata tida mudah menurunkan ilmu empu. Banyak syarat yang haris dilakukan, dan

Close