Semua Tampak Tidak Berbusana

KALA itu disaat usianya menginjak delapanbelas tahun, Mas Nung (bukan nama sebenarnya) menerima warisan dari Eyangnya. Bukan berupa tanah atau rumah, namun seutas tali dari benang lawe, seperti sumbu kompor minyak. Panjangnya satu setengah meter dan besarnya sejempol kaki orang dewasa. Karena tidak tahu ikhwal tali lawe tersebut, Mas Nung sowan Pakdenya.

Kata Pakdenya, seutas tali tersebut adalah sebuah pusaka, sebagai aji panglimunan. Jika dikalungkan di leher dan didahului dengan mengucapkan sebuah mantram, orang lain tidak bisa melihat dirinya. Tak hanya itu, orang yang dilihat, tampak seperti kondisi ketika dilahirkan, nglegena alias telanjang bulat.

Mas Nung, orang muda lugu dan tidak suka neka-neka itu tidak percaya akan hal-hal yang tidak masuk akal, seperti yang dikatakan Pakdenya. Namun, tak urung dia pun ingin membuktikan juga.

Sore itu Mas Nung masuk ke kamarnya. Dibacalah mantram sesuai petunjuk. Pusaka tali benang lawe segera dikalungkan di lehernya, lalu keluar kamar.
“Lho…?!” ucapnya kaget. Bapak, Ibu dan kedua adik perempuannya yang sedang bercengkerama di ruang tamu, semuanya kok… Pada bugil?! Tubuhnya tampak polos tanpa tertutup sehelai benang pun. Persis seperti kondisi saat dilahirkan. Anehnya, mereka tidak bereaksi atas kedatangan Mas Nung. “Jadi mereka tidak melihat aku?” ujar Mas Nung dalam hati.

Mendapati kenyataan seperti itu Mas Nung merasa sangat risi, jengah dan malu sendiri. Cepat-cepat dia masuk kembali ke kamarnya. Tali benang lawe yang tergantung di leher dia lepaskan. Lalu kembali menemui seluruh keluarganya di ruang tamu.

“Alhamdulilah…,” gumamnya pelan. Bapak, Ibu dan kedua adik perempuannya masih tetap asyik bercengkerama. Namun tidak lagi bertelanjang bulat. Semua berpakaian seperti biasanya.

Mas Nung baru percaya akan kata-kata Pakdenya. “Tapi, apa manfaat tali benang lawe itu? Apakah hanya untuk melihat pemandangan seperti itu?” begitu pertanyaan yang selalu memenuhi benaknya.

Karena pertanyaan tersebut tidak kunjung mendapat jawaban, Mas Nung memutuskan menyerahkan warisan dari Eyangnya itu kepada Pakdenya. Konon, oleh Pakdenya, pusaka benang lawe tersebut akhirnya dilarung di laut kidul. (FX Subroto/Jbo)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
JEJAK PEWARIS TANGGUH ENTHO-ENTHO (1) – Tiga Empu Tangguh Keturunan Majapahit

Pada masa lalu keris berfungsi sebagai senjata dalam duel atau peperangan, sekaligus sebagai benda pelengkap sesajian. Kehebatan sebuah keris, tak

Close