Pulang Sarapan Tempe Bacem

ORANG kala itu, menyebut penampilan Mujio (bukan nama sebenarnya) dengan krosboy. Pemuda suka nampang, suka mengenakan celana cutbray, ketat di bagian atas dan lebar di bagian bawah. Rambutnya juga berjambul ke depan dan belakang gondrong, menyerupai rambut Elvis Presley. Kalau sudah berpenampilan begitu, seolah tidak ada yang menandinginya lagi. Mbagusi. Sebentar-sebentar membetulkan jambul depannya.

Tak sedikit pemuda waktu itu suka bermain band. Begitu pula Mujio, juga suka nge-band. Dia adalah pemetik gitar yang andal. Sobat kentalnya adalah Suradal (nama samaran). Kalau Suradal mengganti nama dengan Junidal, Mujio mandah menggunakan nama asli pemberian bapak dan emboknya.

Mujio dan Junidal bergabung dalam satu grup bernama Gumala Ria. Entah apa arti nama itu, tapi bagus juga kedengarnnya. Untungnya, penampilan Gumala Ria cukup bagus sehingga disuka tua muda.

Suatu kali Gumala Ria ditanggap main di kampung sebelah. Seperti biasa permainan mereka mendapat respon cukup baik dari penonton. Banyak orang me-request lagu-lagu ke Gumala Ria. Permainan mereka menjadi bersemangat, hingga larut malam tak mereka rasakan.

Usai ngeband awak Gumala Ria melanjutkan dengan pesta sampai menjelang pagi. Tapi akhirnya mereka semua klipuk di atas tikar yang disediakan panitia, di sebuah rumah terbuka tak jauh dari panggung.

Pagi pun datang, awak Gumala Ria sudah pada bangun kecuali Mujio. Dia masih kelihatan tidur ngleketer. Pulas sekali tampaknya. Ketika mereka akan membenahi alat-alat, Mujio lalu dibangunkan Junidal. Tapi begitu kaki Mujio disentuh, pemuda itu bangun dengan amat mengagetkan. Begitu membuka mata Mujio langsung tertawa ngakak. Tentu saja semua teman-temannya kaget. Bahkan ada yang ketakutan karena mata Mujio tampak merah, wajahnya terkesan meradang. Yang membuat mereka khawatir, dadanya dipukul-pukul dengan tangannya sendiri.

Warga setempat lalu mengundang Mbah Jiyo, orangtua yang paham masalah gaib. Mujio lalu diangkat beramai-ramai untuk di tidurkan di Balai Kampung. Di tempat itu Mujio berteriak-teriak: “Pulaaang, pulaaang! Makaan!”
Mbah Jiyo sudah hafal dengan kelakuan dhayang pohon randu yang merasuki tubuh Mujio ini. Setelah diberi dua tempe bacem dan dimakan, akhirnya pemuda krosboy ini sadar.

Menurut Mbah Jiyo, dhanyang pohon randu yang tumbuh tak jauh dari panggung tempat main Gumala Ria semalam, merasa gerah karena membuatnya tak bisa bistirahat. (JB Santoso)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
SYIAR ISLAM KANJENG SUNAN DI TLATAH KEDU (4) – Watu Gajah Tempat Duduk Sunan Geseng

Ketika jenazah Sunan Geseng disemayamkan di Kleteran, Kyai Wonotirto dengan kesaktiannya merubah diri menjadi seekor kucing dan masuk ke ruang

Close