Sial Ambil Bocah Segara Kidul

JUDHEG. Itulah yang ada di benak Mujimin (bukan nama sebenarnya). Utangnya di bank sudah jatuh tempo, tapi belum juga bisa dipenuhi. Gali lubang tutup lubang jelas sudah tidak bisa dilakukannya lagi, karena di sekelingnya sudah banyak lubang. Tinggal terperosoknya saja. Selagi dibelit pikiran puyeng lalu datang Pak Sarwa (nama samaran) ke rumahnya.

Di mata Mujimin, Pak Sarwa ibarat malaikat yang turun dari langit. Sebab dia menawarkan solusi untuk mengurai masalah yang membelitnya sekian lama. Padahal, solusi yang ditawarkan kepada Mujimin terbilang tidak masuk akal, bahkan bisa dikatakan naïf. Mana ada kembang dan dupa atau kemenyan tiba-tiba bisa menggulirkan dana?

Tapi karena sedang kejudhegan nalar, solusi yang ditawarkan Pak Sarwa itu diterima Mujimin. Pada waktu yang telah ditentukan, Mujimin dan Pak Sarwa pergi ke sebuah kawasan pantai selatan yang dikenal sebagai tempat mencari pesugihan. Tepatnya pada malam Jumat Kliwon, menurut para ahli mistik malam seperti itu adalah hari kerja atau saat pesta para para dhemit. “Kita cukup membawa satu anak gaib dari tempat itu,” kata Pak Sarwa kepada Mujimin.

“Bagaimana kalau dua, Pak? Utang saya banyak, je,” keluh Mujimin. Harapannya, dengan dua sosok thuyul, utangnya akan cepat pulang.

“Boleh, tapi konsekuensinya, kamu harus siap membayar imbalan yang mereka minta,” jawab Pak Sarwa.

Pak Sarwa, Mujimin dan jurukunci setempat segera masuk ke sebuah gubuk untuk melakukan ritual memanggil dua anak gaib. Ubarampe yang mereka bawa sudah diserahkan sang jurukunci. Tak berapa lama, setelah mantra dibacakan, muncul dua anak berkepala gundul dengan wajah yang sangat aneh. Atas perintah si jurukunci, dua anak itu langsung ngruket tubuh Mujimin. “Silakan bawa langsung pulang, jangan mampir-mapir di tempat sembarang,” kata jurukunci. Kedua bocah itu tentu saja tidak kasat mata. Maka ketika pulang tidak seorang pun yang berpapasan dengan Mujimin dan Pak Sarwa melihat kedua bocah ingon-ingon itu berada di antara mereka. Tapi tidak bagi yang satu ini…

Setelah beberapa ratus meter berjalan, dari atas pohon beringin meloncat turun sesosok makhluk amat menakutkan. Badannya mengkilap gundul dan bercawat, berdiri mengangkang persis di hadapan Mujiman dan Pak Sarwa. Kedua anak itu dirampas oleh makhluk seram itu. “Edan tenan! Bocah loro iki anakku! Arep digawa nang endi…?!”
Karena Mujimin memegang anak-anak itu sangat kuat, maka dia ikut terbawa naik ke atas pohon beringin.

Sudah seminggu Mujimin dinyatakan hilang dan baru ditemukan jazadnya di bibir pantai Segara Kidul. (Hanny S/Jbo)

Read previous post:
MISTERI MAKAM IBU UNTUNG SUROPATI DI PANDAK (3) – Pesinden, Penari dan Pengrawit Tenar

Ada versi menyatakan kepergian Nyai Gadhung Mlati dari Majapahit diikuti oleh Gusti Ayu Setyaningsih dan Ki Surokanti. Pengembaraannya sampai di

Close