Diminta Membuntuti Mobil Jenazah

HANDPHONE atau hape Mangil (bukan nama sebenarnya) berbunyi, ada panggilan masuk. Minta dijemput di ujung timur jalan Jendral Sudirman. Mangil, pengemudi ojek online itu segera meluncur ke tempat yang diminta.

“Ikuti saja mobil jenasah di depan itu”, ujar penumpangnya, seorang pria berperut buncit. Terlihat mobil jenasah meluncur ke arah barat dan belok ke utara menuju jalan Kaliurang.

Dalam perjalanan, Mangil sempat berbincang. Penumpang itu mengaku bernama Sarkip (nama samaran). Akan pulang ke rumahnya di daerah Turi. “Tapi tetangga-tetanggaku lebih senang memanggilku Pak Bunder”, ujar penumpangnya.

Mangil merasa heran, jalan Kaliurang yang lalulintasnya selalu padat, pagi itu serasa ada yang menyibakkan. Sehingga dia bisa berjalan cepat di belakang mobil jenasah yang lajunya di atas rata- rata.

Perjalanan terasa sangat cepat. Sampai di daerah Turi, pada sebuah gang dusun, mobil jenazah masuk. Dan berhenti di depan sebuah rumah. Beberapa warga sejak pagi sudah menunggu kedatangan mobil bercat putih tersebut. Segera mengeluarkan sebuah peti mati dari dalam mobil dan dibawa masuk rumah.

Mangil menghentikan motornya kira- kira sepuluh meter di belakang mobil jenasah. Masih duduk di sadel dan tanpa menoleh ke belakang, Mangil berujar kepada penumpangnya. “Pak, njenengan mau layat ke sini? Ini sudah sampai.”

Tidak ada jawaban. Barangkali tidak mendengar, Mangil mengulang ucapannya. Masih juga tidak ada reaksi, pengemudi ojek online itu menoleh ke belakang. “Lho?!” Ternyata tidak ada siapa-siapa di jok belakangnya.

Mangil turun dari motornya, mendekat ke kerumunan orang melayat. Menanyakan, siapa gerangan orang yang meninggal itu. Dari salah seorang pelayat, Mangil mendapat informasi, jika orang yang meninggal tersebut adalah Pak Sarkip. “Tetapi orang sini pada memanggil Pak Bunder, Mas,” ujar orang tersebut.

Dari celetukan seorang pelayat, Mangil tahu, jika Pak Sarkip atau Pak Bunder itu sepanjang hidupnya tidak suka naik mobil. Pasalnya, kalau naik mobil, suka pusing lalu muntah. “Jadi… Pak Bunder pulang ke rumah, mbonceng motorku?” batin Mangil sembari ngeloyor pergi. (Andreas Seta RD/Jbo)

Read previous post:
BAKTI PATIH DANUREJO BAGI KASULTANAN (05) – Napas Seni dari Hidup Pedesaan

Pertunjukan Langen M<andra Wanara mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat mengingat pada masa itu masyarakat begitu mengidamkan dapat menyaksikan tarian

Close