Dua Ember Air Kencing….

MALAM Minggu yang cerah, seperti biasa Ngaderi ngapeli Sutamsih (keduanya bukan nama sebenarnya ). Puas putar-putar kota dengan motornya, jam sepuluh Ngaderi mengantar pulang pacarnya. Dan bersegera pamit pulang ke rumah kostnya.

Sial. Dalam perjalanan pulang, ban depan sepedamotornya nggembos. Terpaksalah Ngaderi jalan kaki menuntun motornya, sembari celingak-celinguk kanan-kiri mencari tukang tambal ban.

Belum lagi menjumpai tukang tambal ban, keinginan Ngaderi untuk buang air kecil sepertinya sudah tidak bisa ditahan. Ngaderi cepat-cepat menyetandarkan motornya. Tanpa berpikir panjang lalu dia berdiri membelakangi jalan, dan… cuuur! Ngaderi melampiaskan hajad kecilnya di bawah sebuah pohon besar di pinggir jalan.

Beruntung, tidak jauh dari situ Ngaderi menemukan kios tukang tambal ban. Namun, tak urung tiba di rumah kost sudah larut malam. Langsung rebahan di dipan, dan tertidur.
Menjelang Subuh Ngaderi terbangun, kebelet pipis. Masih hayub-hayuben pemuda itu melangkahkan kakinya ke toilet. Gandrik! Ngaderi kaget campur heran. Di lantai toilet dia mendapati sebuah ember penuh dengan air kencing. Baunya…, minta ampun! Teramat sangat pesing, menyengat hidung. Sepertinya air kencing tersebut sudah wayu, tersimpan lima hari.

Ngaderi segera mengangkat ember tersebut dan menumpahkan isinya ke dalam toilet. Namun baunya yang amat menyengat hidung masih tertinggal, meski sudah disiram air bersih beberapa kali. “Huh, biarlah besuk pagi Mbok Nah yang mengoseknya”, gerutunya.

Esok paginya, ketika membuka mata sambil masih tiduran, lagi-lagi Ngaderi kaget. Hidungnya mencium bau teramat sangat pesing yang ternyata berasal dari kamar toilet. Bergegas dia menuju toilet. Ya ampuuun…! Lagi-lagi di lantai toilet ada seember air kencing dengan bau yang amat menyengat. Sama persis dengan yang tadi malam.

Pikiran Ngaderi baru tersadarkan. “Jangan-jangan ini adalah balasan atas ulahku semalam, kencing sembarangan di bawah pohon besar di pinggir jalan,” gumam Ngaderi.

Lewat Pak Ngguwi (nama samaran), Ngaderi memohon maaf atas keteledorannya. Kata Pak Ngguwi, orang tua yang faham hal ikhwal makhluk astral, pohon ketepeng besar di pinggir jalan tempat Ngaderi kencing semalam, ada penunggunya.

“Marah karena keratin-nya dikencingi, dia geram lalu balas dendam. Untung perbuatan Ngaderi lalu dimaafkan. (Andreas Seta RD/Jbo)

Read previous post:
Bengkuang Kurangi Produksi Asam Lambung

DALAM jumlah yang berlebihan, lemak (trigliserida dan kolesterol) bisa menyebabkan penyakit yang sangat serius seperti aterosklerosis, stroke dan penyakit jantung

Close