JAKA SAMUDRA, DIBUANG DI LAUTAN DITABALKAN JADI SUNAN (9) – Raden Paku Bertemu Ayah Kandungnya di Pasai

Sunan Ampel semakin yakin bahwa Jaka Samudra bukan bocah biasa. Bertepatan pada hari yang sama. Nyai Ageng Pinatih menjenguk Jaka Samudra di pesantren. Sunan Ampel mengisahkan peristiwa tersebut dan Nyai Ageng Pinatih menceritakan bahwa Jaka Samudra bukan anak kandungnya.

JAKA Samudra ditemukan di dalam kotak peti yang terapung di tengah samudra. Sunan Ampel pun pergi ke Gresik untuk melihat peti yang digunakan untuk melarung Jaka Samudra sewaktu dulu masih bayi. Begitu melihat bentuk dan ukiran peti yang ada, Sunan Ampel yakin
bahwa Jaka Samudra adalah putra dari Syaikh Wali Lanang atau Syaikh Maulana Ishaq. Maka sesuai pesan yang dulu disampaikan oleh Syaikh Wali Lanang sebelum berangkat ke Pasai, Jaka Samudra diberi nama Raden Paku.

Jaka Samudra alias Raden Paku tumbuh menjadi pemuda yang soleh dan elok rupawan. Memiliki kawan-kawan yang akrab. Terutama dengan putra Sunan Ampel yang bernama Raden Makdum Ibrahim. Mereka berdua seakan saudara kandung. Saling menyayangi. Saling menasehati. Suatu kali Sunan Ampel memanggil keduanya. Beliau memberi titah.

“Sudah saatnya kalian berdua menuntut ilmu di luar Ampeldenta. Ada ulama besar di Pasai yang bernama Syaikh Maulana Ishaq atau Syaikh Wali Lanang. Beliau memiliki gelar Syaikh Awwalul Islam. Temuilah dan nyantrilah kepada beliau.”
Sunan Ampel tetap merahasiakan bahwa Syaikh Wali Lanang yang akan mereka temui adalah ayah Raden Paku. Setelah menyiapkan segala keperluan, mereka pun berangkat ke Pasai.

Sesampainya di Pasai, kedatangannya disambut bahagia oleh Syaikh Wali Lanang. Raden Paku menceritakan kisah hidupnya mulai dari bayi hingga menjadi anak Nyai Ageng Pinatih dan berguru kepada Sunan Ampel. Sementara Syaikh Wali Lanang mengisahkan perjalanan menyebarkan Islam di Blambangan, bertemu Dewi Sekardadu yang menjadi istrinya.
Kemudian terpaksa meninggalkan sang istri yang sedang mengandung untuk mencegah pertumpahan darah dan demi menjaga keamanan dan ketentraman masyarakat semuanya.

Raden Paku menangis. Memikirkan bagaimana nasib ibundanya. Jiwa muda Raden Paku bergolak. Ingin membalas perbuatan orang-orang yang telah berbuat jahat kepada keluarganya. Syaikh Wali Lanang pun segera meredakan amarah putranya.
“Putraku. Bersikap adil dengan membalas perbuatan jahat yang orang lakukan itu sah dan diperbolehkan. Hanya saja memberi maaf kepada orang yang berbuat jahat itu tetap lebih baik.”

Amarah Raden Paku akhirnya reda. Ia dan saudaranya sementara waktu tinggal dan mengaji kepada Syaikh Wali Lanang. Setelah dirasa cukup mendalami ilmu agama, mereka diizinkan untuk pulang ke Jawa. Syaikh Wali Lanang memberikan bungkusan kain putih yang berisi tanah. Dengan pesan bahwa kelak jika Raden Paku akan mendirikan pesantren, carilah tanah yang memiliki bau yang sama dengan tanah yang ada dalam bungkusan tersebut. (Wachid E. Purwanto UAD)

Read previous post:
Buncis Baik Bagi Penderita Diabetes

BUNCIS merupakan salah satu jenis sayuran serbaguna yang bisa tumbuh di berbagai iklim yang berbeda, yang menjadikannya sebagai makanan yang

Close