JAKA SAMUDRA, DIBUANG DI LAUTAN DITABALKAN JADI SUNAN (8) –
Dikirim ke Pesantren Ampeldenta di Surabaya untuk Nyantri

Di Jawa, Nyai Ageng Pinatih belajar agama kepada dua ulama hebat, Syaikh Maulana Malik Ibrahim dan Raden Rahmatullah alias Sunan Ampel di Surabaya. Dari dua ulama ini Nyai Ageng Pinatih juga mempelajari ilmu dan strategi perdagangan. Nyai Ageng Pinatih orang yang cerdas. Mampu menyerap dan melakoni segala ilmu yang diajarkan gurunya. Nyi Ageng Pinatih pun memanfaatkan pantai dan pesisir di sepanjang wilayah Gresik untuk dijadikan pusat perdagangan.

PERDAGANGAN Nyai Ageng Pinatih lambat laun menuai keberhasilan dan kesuksesan. Kapal Nyai Ageng Pinatih semakin banyak. Kapal ini dimanfaatkan untuk berdagang. Saat berangkat membawa barang dari Gresik, Blambangan dan Majapahit untuk dijual ke daerah dan pulau lain. Dan saat pulang membawa barang dari daerah dan pulau lain untuk dipasarkan di Gresik dan sekitarnya.

Nyai Ageng Pinatih sangat piawai dalam mengelola perkapalan, pelabuhan dan perdagangannya. Maka pada tahun 1458 Raja Majapahit mengangkatnya sebagai Syahbandar Pelabuhan Gresik. Tugas utama Nyai Ageng Pinatih sebagai syahbandar adalah memungut bea cukai dan mengawasi kapal-kapal dagang asing. Mulai pada saat itu, Nyai Ageng Pinatih adalah syahbandar paling kondang di zamannya. Nyai Ageng Pinatih pun menjadi syahbandar perempuan pertama yang mengelola bea cukai. Selanjutnya Nyai Ageng Pinatih pun dikenal juga sebagai penyebar agama Islam di Jawa, khususnya di wilayah Gresik dan sekitarnya.

Kisaran tahun 1453/1454 Nyai Ageng Pinatih mengirim Jaka Samudra ke pesantren Ampeldenta di Surabaya untuk nyantri kepada Guru Nyai Ageng Pinatih, yakni Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Beberapa hari menjadi santri di Ampeldenta, Sunan Ampel sudah dapat melihat bahwa Jaka Samudra memiliki kecerdasan di atas rata-rata santri lainnya.

Pada suatu malam. Saat Sunan Ampel hendak mengambil air wudhu untuk salat malam. Sunan Ampel mampir di gothakan tempat tidur para santrinya. Sunan Ampel terkejut. Beliau melihat ada cahaya yang memancar keluar dari salah satu badan santrinya. Sunan Ampel pun mengikat ujung sarung santri tersebut.

Pagi hari. Bakda salat subuh. Saat para santri masih berkumpul. Sunan Ampel menanyakan suatu hal.
“Cung. Saat tadi bangun. Siapa di antara kalian yang kain sarungnya terikat?”
Para santri terdiam. Beberapa saat kemudian Jaka Samudra mengangkat tangan.
“Dalem, Kanjeng Sunan.”

Sunan Ampel semakin yakin bahwa Jaka Samudra bukan bocah biasa. Bertepatan pada hari yang sama. Nyai Ageng Pinatih menjenguk Jaka Samudra di pesantren. Sunan Ampel mengisahkan peristiwa tersebut dan Nyai Ageng Pinatih menceritakan bahwa Jaka Samudra bukan anak kandungnya. (Wachid E. Purwanto UAD)

Read previous post:
Kikil Sapi Dukung Kesehatan Tulang

BAHAN alami berasal dari tumbuhan maupun satwa cocok diolah menjadi asupan sehat, bercita rasa serta bertekstur khas. Salah satunya, yaitu

Close