JAKA SAMUDRA, DIBUANG DI LAUTAN DITABALKAN JADI SUNAN (7) – Nyai Ageng Pinatih Belajar dari Dua Ulama Besar

Konon, Nyai Ageng Pinatih sudah lama mendambakan kehadiran seorang putra. Dan kini ia mendapatkan jabang bayi dari tengah samudra. Maka bayi itu kemudian diberi nama Jaka Samudra. Nyai Ageng Pinatih merawat bayi itu dengan sangat baik sebagaimana anaknya sendiri.

NYAI Ageng Pinatih adalah salah satu putri Xuan Wei Shi – yang dikenal sebagai Shi Jin Qing atau Tuan Besar. Xuan Wei Shi adalah seorang cina muslim pemimpin Chiu-chang (Kukang: Pelabuhan Lama. Sekarang merupakan wilayah Palembang). Xuan Wei Shi adalah utusan yang diangkat Kerajaan Majapahit untuk wilayah Palembang. Tugas Xuan Wei Shi adalah mengurus masalah keagamaan, pelabuhan dan administrasi perdagangan. Pada tahun 1407, Dinasti Ming memberikan pengakuan dan merestui Xuan Wei Shi sebagai agamawan dan negarawan di wilayah Palembang.

Xuan Wei Shi memiliki tiga orang putri. Pi Na Ti – yang kemudian dikenal sebagai Nyi Ageng Pinatih – Shih Er Chih dan Shih Chi Sun. Setelah Xuan Wei Shi meninggal. Terjadi perebutan kekuasaan di antara para putrinya. Kekuasaan di Palembang dipegang oleh Shih Er Chih. Shih Chi Sun menentang Shih Er Chih dengan mendapatkan dukungan dari iparnya yang bernama Chiu Yan Chen. Shih Chi Sun menganggap dirinya lebih berhak atas pelabuhan Palembang. Maka Shih Chi Sun mencoba mendapatkan legitimasi kekuasaan langsung dari Dinasti Ming.

Pada tahun 1422, Laksamana Haji Mahmud atau yang lebih dikenal dengan nama Laksamana Cheng Ho merasa perlu menyelesaikan masalah perebutan kekuasaan antar kakak beradik ini. Maka ia pun datang ke Palembang. Namun tampaknya Laksamana Cheng Ho tidak berhasil memenuhi harapan Shih Chi Sun agar kekuasaan diberikan kepadanya. Tidak ditemukan titik tengah. Sebab Shih Er Chih sekuat tenaga tetap mempertahankan kekuasaan yang telah dipegangnya. Jika diteruskan tentu akan terjadi perang saudara. Peristiwa ini membuat Shih Chi Sun sangat kecewa. Setelah itu, kabar berita Shih Chi Sun tidak terdengar. Sementara itu, Pi Na Ti tidak memiliki ambisi untuk berebut kekuasaan dengan kedua adiknya. Ia lebih memilih untuk pindah ke Jawa.

Sesampainya di pulau Jawa, Pi Na Ti pergi ke Majapahit guna menemui saudara perempuannya yang menjadi permaisuri Raja Brawijaya. Menyampaikan kondisi yang sedang dialami keluarganya sepeninggal ayahanda. Brawijaya pun bersimpati. Raja Majapahit itu menghadiahi Pi Na Ti sebuah bidang tanah di daerah Gresik. Pi Na Ti pun akhirnya menetap di Gresik sejak 1412 M.

Di Jawa, Nyai Ageng Pinatih belajar agama kepada dua ulama hebat. Syaikh Maulana Malik Ibrahim dan Raden Rahmatullah alias Sunan Ampel di Surabaya. Dari dua ulama ini Nyai Ageng Pinatih juga mempelajari ilmu dan strategi perdagangan. Nyai Ageng Pinatih adalah orang yang cerdas. Mampu menyerap dan melakoni segala ilmu yang diajarkan gurunya. Nyi Ageng Pinatih pun memanfaatkan pantai dan pesisir di sepanjang wilayah Gresik untuk dijadikan pusat perdagangan. (Wachid E. Purwanto UAD)

Read previous post:
Pemuda Stres Gantung Diri

SEMARANG (MERAPI) - Seorang lelaki muda berusia 35 tahun dan diketahui bernama Warno warga Dusun Karangboyo, Desa Banyusri Kecamatan Wonosegoro,

Close