JAKA SAMUDRA, DIBUANG DI LAUTAN DITABALKAN JADI SUNAN (6) – Dewi Sekardadu Meninggal untuk Menyelamatkan Anaknya

Para pembesar kadipaten mulai kasak-kusuk. Wabah ganas ini disebabkan karena hawa panas yang memancar dari jabang bayi Dewi Sekardadu. Adipati gelisah. Tidak dapat makan dan tidur. Hingga suatu kali terbersitlah sebuah pikiran. Benarkah bayi dalam kandungan putriku yang menyebabkan geger di Blambangan? Jika memang demikian, bila bayi itu lahir akan aku buang ke laut.

BEBERAPA waktu setelah itu. Dewi Sekardadu melahirkan jabang bayi yang lucu. Adipati Menak Sembuyu sudah melupakan Syaikh Wali Lanang. Ia menimang cucunya dengan kasih sayang. Hanya saja di luar kadipaten, wabah masih menyerang. Dikisahkan, Patih Bajul Sengara masih terus memberi hasutan. Wabah yang terjadi di Blambangan berhubungan dengan kelahiran putra Syaikh Wali Lanang. Dikisahkan bagaimana Patih Bajul Sengara menghasut Sang Adipati.

“Air laut bisa mendinginkan hawa panas jabang bayi Syaikh Wali Lanang.”
Hingga Sang Adipati benar-benar terhasut dan memerintahkan agar bayi merah itu direnggut dari ibunya. Awalnya Adipati ingin membuangnya langsung ke laut. Namun hatinya masih memiliki rasa sayang. Bayi itu akhirnya dimasukkan ke dalam peti dan dilarung ke laut.

Mengetahui putranya dilarung di laut, Dewi Sekardadu berusaha menyelamatkannya.
Berdasarkan cerita dari masyarakat Desa Ketingan, Dewi Sekardadu menceburkan diri. Berusaha menyusul dan menyelamatkan bayinya yang terapung-apung di dalam peti. Namun Dewi Sekardadu akhirnya meninggal karena tenggelam. Jasad Dewi Sekardadu ditarik oleh ikan-ikan
keting menuju daratan. Para nelayan di daerah tersebut kemudian menguburkan Dewi Sekardadu. Atas dasar peristiwa itu, daerah tersebut selanjutnya diberi nama Ketingan.

Peti berisi bayi itu terapung-apung di lautan. Tepatnya di selat Bali. Kisaran tahun 1442/1443. Sebuah kapal dagang yang sedang berlayar menuju Bali menabrak peti tersebut dan tak bisa bergerak. Para anak buah kapal menemukan kotak peti dan mengangkatnya.
Membawanya ke geladak lalu membukanya. Dan menemukan jabang bayi di dalamnya. Kapal yang sedianya menuju Bali itu mendadak berubah haluan kembali menuju Gresik. Meskipun sudah berkali-kali diupayakan menuju Bali, namun kapal tetap berbalik arah. Kyai Muhammad Sobur dan Kyai Muhammad Sobir, penemu jabang bayi itu akhirnya memutuskan untuk kembali ke Gresik melaporkan kepada juragan mereka, Nyai Ageng Pinatih.

Nyai Ageng Pinatih terkejut ketika anak buah kapalnya pulang lebih cepat dari waktu yang seharusnya. Setelah mendengarkan cerita dan menerima peti berisi bayi, Nyai Ageng Pinatih merasa beruntung. Konon, Nyai Ageng Pinatih sudah lama mendambakan kehadiran seorang putra. Dan kini ia mendapatkan jabang bayi dari tengah samudra. Maka bayi itu kemudian diberi nama Jaka Samudra. Nyai Ageng Pinatih merawat bayi itu dengan sangat baik sebagaimana anaknya sendiri. (Wachid E. Purwanto UAD)

Read previous post:
Peragakan Adegan Kirim Sate Bersianida, Nani Menangis

Close