JAKA SAMUDRA, DIBUANG DI LAUTAN DITABALKAN JADI SUNAN (5) – Berpesan Jika Anaknya Lahir Diberi Nama Raden Paku

“Bismillahirrahmanirrahim. Awit muji ing Allah. Kang maha murah ing donya salire. Ingkang maha asih ing akhirat. Kang pinuji tan pegat. Kang asung. Angapura ing dosa.” Seketika Adipati Menak Sembuyu sembuh dari bisu dan lumpuhnya. Syaikh Wali Lanang pun menghaturkan sembah dan meminta izin untuk pulang ke rumah.

SUASANA ndalem kadipaten masih mencekam. Selang hari setelah itu Adipati Menak Sembuyu dan para pembesar kerajaan berunding untuk melakukan penyerbuan. Melenyapkan Syaikh Wali Lanang. Mengetahui hal itu, Syaikh Wali Lanang berpamitan kepada istrinya.
Namun Dewi Sekardadu yang sedang mbobot tujuh bulan itu masih belum rela.

“Jangan pergi Kanda. Jikalau Kanda pergi, siapa yang akan mengajar dan membimbing kami. Siapa yang akan memberi contoh budi pekerti yang luhur kepada kami? Bagaimana nasib jabang bayi dan penduduk Blambangan nanti?”

Tekad Syaikh Wali Lanang sudah bulat. Satu-satunya cara yang paling mungkin dilakukan Syaikh Wali Lanang guna meredam keadaan dan mencegah pertumpahan darah adalah meninggalkan Blambangan. Syaikh Wali Lanang pun menyampaikan tiga pesan kepada Dewi Sekardadu.
Pertama, sepeninggal Syaikh Wali Lanang, istrinya harus pulang ke rumah orang tuanya dan tetap berada di ndalem kadipaten. Kedua, jika kelak bayi dalam kandungan itu lahir laki-laki, maka berilah nama Raden Paku. Ketiga, jika kelak Dewi Sekardadu akan mencari Syaikh Wali Lanang, perhatikanlah penanda di pinggir jalan. Apabila di pinggir jalan tertentu ada batu tumpang tumpuk, maka keberadaan Syaikh Wali Lanang tidak jauh dari tempat tersebut.

Syaikh Wali Lanang pun meninggalkan Blambangan. Tujuannya adalah Pasai. Namun Ia singgah dulu di Ampel Denta. Menemui sepupunya, Sunan Ampel. Syaikh Wali Lanang menceritakan peristiwa yang terjadi di Blambangan. Kemudian meminta kepada Sunan Bonang apabila kelak menemui bocah bernama Raden Paku, Sunan Ampel diminta untuk merawat dan mendidik bocah itu.

Sepeninggal Syaikh Wali Lanang, Blambangan diserang wabah kembali. Kali ini wabah yang menyerang lebih menakutkan. Disebutkan dalam Babad Demak Pesisiran wabah yang melanda Blambangan dikarenakan kepergian Syaikh Wali Lanang. Orang-orang terjangkit penyakit. Pagi sakit sore mati. Sore sakit pagi mati.

Dalam Babad Gresik dikisahkan kebimbangan Adipati Menak Sembuyu atas keadaan yang menimpa Blambangan. Terlebih Syaikh Wali Lanang sudah meninggalkan Blambangan.

Dalam kebimbangan, Adipati Menak Sembuyu tetap mengupayakan segala cara. Termasuk mengundang para wasi, ahli nujum, dukun dan juru tenung. Semua yang diundang datang, namun tidak ada yang berhasil merampungkan. Pagebluk malah semakin ganas dan meluas.
Para pembesar kadipaten pun mulai kasak-kusuk. Wabah ganas ini disebabkan karena hawa panas yang memancar dari jabang bayi Dewi Sekardadu. Adipati gelisah. Tidak dapat makan dan tidur. Hingga suatu kali terbersitlah sebuah pikiran. Benarkah bayi dalam kandungan putriku yang menyebabkan geger di Blambangan? Jika memang demikian, bila bayi itu lahir akan aku buang ke laut. (Wachid E. Purwanto UAD)

Read previous post:
Jeruk Manis Ditakuti Influenza

JERUK dengan cita rasa manis atau biasa disebut jeruk manis layak untuk selalu tersedia di meja makan. Ketika bisa rutin

Close