MASUKNYA ISLAM DI TERNATE (2) – Suara Merdu Datu Hussein Membuat Orang Terpesona

Jauh sebelum Islam datang, samudera Nusantara telah dipenuhi lalu lalang kapal layar bangsa asing. Cengkeh yang awalnya hanya dikunyah untuk pengharum mulut, lama kelamaan menjadi sangat penting untuk pembuatan berbagai produk, seperti minyak wangi, minuman dan obat-obatan.

TANAMAN cengkeh semula tumbuh liar, namun kemudian dibudidayakan masyarakat karena tingginya permintaan. Orang-orang dari Arab, terutama dari semenanjung Yaman, India dan Cina berdatangan untuk mencari komoditi tersebut. Daerah yang paling banyak ditumbuhi cengkeh dan pala adalah kepulauan Maluku.

Rupanya komoditi itu turut mengundang orang Eropa di abad ke-15 datang ke Maluku. Diawali bangsa Portugis yang disusul Belanda, Spanyol dan Inggris. Hal itu membuat arus perdagangan semakin ramai. Lama-lama bangsa Eropa semakin menguasai arus perdagangan, karena mereka memiliki armada yang lebih canggih dengan menggunakan kapal uap.

Sedang awal kedatangan Islam di Maluku khususnya Ternate, diperkirakan sejak awal berdirinya Ternate (1257) masyarakat Ternate telah mengenal Islam mengingat banyaknya pedagang Arab yang telah bermukim di Ternate kala itu. Beberapa raja awal Ternate sudah menggunakan nama bernuansa Islam, seperti Baab Masyhur, pendiri kerajaan Ternate. Namun kepastian mereka maupun keluarga kerajaan memeluk Islam masih diperdebatkan. Hanya dapat dipastikan bahwa keluarga kerajaan Ternate resmi memeluk Islam pertengahan abad ke-15.

Penyebaran agama Islam di Maluku pada masa-masa awal tidak dapat dipisahkan dari kerja keras seorang pedagang sekaligus muballg asal Jawa, Datu Maula Hussein, yang tiba di Ternate pada 1465. Hussein adalah seorang mubalig besar pada masanya, yang memiliki pengetahuan agama Islam luas dan dalam, pakar tilawah dan kaligrafi Arab.

Pada waktu senggang, terutama di malam hari, ia membaca al-Quran dengan suara yang merdu, serta membuat kaligrafi di atas potongan-potongan papan. Keahliannya ini membuat warga asli Ternate terpesona dan kagum. Tak heran jika setiap kali ia mengumandangkan ayat-ayat suci Al-Quran, banyak orang yang berdatangan untuk mendengarkan. Dari waktu ke waktu jumlah pengagumnya kian bertambah banyak. Akhirnya ada di antara warga asli yang memintanya untuk diajarkan membaca Al-Quran.

Hussein menjelaskan bahwa Al-Quran adalah kitab suci agama Islam yang berisi kalam Ilahi. Kitab suci ini hanya boleh diajarkan kepada mereka yang telah menganut agama Islam. Mendengar penjelasan Hussein, orang-orang Ternate tidak keberatan dengan syarat itu, sehingga mulailah mereka berbondong-bondong memeluk agama Islam. Dengan semakin banyaknya orang Ternate maupun orang Tidore, Bacan dan Jailolo yang masuk Islam, maka Hussein membuka pengajian untuk mengajarkan Al-Quran dan Islam.

Upayanya itu akhirnya sukses karena merembet sampai ke lingkungan istana. Hussein diminta membaca Al-Quran dan menjelaskannya di depan kolano, para bobato serta keluarga istana, yang berujung dengan pengucapan dua kalimat syahadat sebagai pertanda masuk Islamnya mereka. Datu Maula Hussein adalah guru spiritual Zainal Abidin, mulai dari masa kanak-kanaknya hingga dinobatkan sebagai Sultan Ternate. Seperti terlihat dalam catatan sejarah, Islam memperoleh kekuatan politik setelah bertakhtanya Zainal Abidin pada 1486. Zainal Abidin
adalah raja pertama Ternate, bahkan Maluku, yang memakai gelar sultan, sebagai pengganti gelar kolano yang disandang para pendahulunya.
(Dari berbagai sumber/*)

Read previous post:
Murbei Musuh Bebuyutan Hipertensi

 TANAMAN murbei layak dilestarikan keberadaannya. Baik murbei jenis biasa maupun murbei dengan buah memanjang atau biasa disebut murbei long. Kedua

Close