SEPAK TERJANG NYIMAS GAMPARAN (3) – Menyerang untuk Menghancurkan Program Cultuurstelsel

Beberapa daerah yang menjadi target penyerangan yaitu di wilayah Jasinga, Cikande, dan Balaraja. Untuk mensukseskan stretegi perang gerilya Nyimas Gamparan membangun tempat markas persembunyian di wilayah yang kini disebut Balaraja, Kabupaten Tangerang. Jika ditinjau dari arti bahasa Balaraja berasal dari dua suku kata Balai dan Raja yang kemudian diartikan tempat singgah para raja ada juga yang memaknainya tempat berkumpulnya tentara raja.

LEBIH lengkapnya Balaraja berada di Desa Kubang Kecamatan Sukamulya (Pemekaran Kecamatan Balaraja). Penduduk setempat mempercayai bahwa Balaraja adalah tempat yang baik untuk persembuyian. Tempat tersebut sangat sulit dilacak selain letaknya berada jauh di pedalaman tempat tersebut juga dilindungi kekuatan gaib sehingga sulit ditemukan. Tempatnya pun diapit antara Sungai Cidurian dan Cimanceuri sehingga transportasi penyerangan bisa dilakukan dari berbagai arah. Selain itu, akses dari jalan Anyer-Panarukan (kota Balaraja) menuju Kubang harus melewati hutan lebat.

“Sebentar lagi kita akan sampai di hutan, malam ini kita beristirahat disini.”
“Baik akan kami siapkan tempat peristirahatan.”
“Pastikan betul persiapan untuk perang, malam ini kita siapkan perlengkaan perang.

Agar penyerangan dapat berjalan maksimal Nyimas Gamparan memerintahkan penyerangan dari berbagai penjuru. Beberapa di antaranya ada yang melewati jalur sungai.
Cikande Timur sebagi titik epicentrum pergerakannya. Taktik perang gerilya berhasil mengecoh pemerintah Belanda. Nyimas Gamparan yang dikenal dengan kecantikannya tak disangka memiliki kesaktian yang luar biasa. Ia begitu perkasa layaknya seorang pria. Ia gencar melakukan penyerangan sehingga membuat pemerintah Belanda kualahan.

Hingga suatu ketika seorang tuan tanah Belanda yang menguasai lahan yang terbentang dari Cikande sampai Maja tewas terbunuh beserta keluarganya. Hal tersebut membuat pemerintah Belanda dibuat geram oleh Pasukan Nyimas gamparan. Pasalnya pada saat itu pemerintah kolonial Belanda sedang gencar-gencarnya melaksanakan program Cultuurstelsel  dengan membangun jalan Anyer-Panarukan. Penyerangan Nyimas Gamparan membuat konsentrasi terpecah belah. Hal tersebut tentunya sesuai harapan Nyimas Gamparan yang ingin menghancurkan program cultuurstelsel atau tanam paksa.

Nyimas Gamparan terus melaksanakan penyerangan ke Cikande, Rangkas, Serang hingga ke Pandeglang. Serangan-serangan yang dilakukan Nyimas Gamparan beserta pasukannya menelan korban kedua belah pihak. Berbagai cara pun dilakukan untuk menumpas pasukan Srikandi pimpinan Nyimas Gamparan, namun belum ada yang berhasil.

“Jika semakin lama pemberontakan Nyimas Gamparan dan pasukannya tidak segera diatasi sangat berbahaya untuk kita.”
“Tentara kita sudah banyak yang berjatuhan kita harus mencari cara lain.”
Hasil perundingan tersebut memutuskan untuk melakukan penyerangan dengan cara yang berbeda yaitu menggunakan politik devide et impera atau biasa disebut dengan politik pecah belah. Dengan diterapkannya politik pecah belah Belanda mencegah adanya persatuan antar kelompok untuk menjadi kekutan besar sehingga belanda mengadu domba kelompok satu dengan yang lainnya.

“Saya harap Tumenggung Kartanata Nagara dapat bekerja sama dengan kami tentu ada imbalan yang pantas.”
“Apa yang bisa saya lakukan Tuan”
“Habisi Nyimas Gamparan beserta pasukannya.”
“Baik akan saya laksanakan perintah Tuan.”

Raden Tumenggung Kartanata Nagara yang menjadi Demang di wilayah Jasinga, Bogor menyanggupi permintaan pemerintah kolonial Belanda. Jika berhasil melaksankan tugas maka akan dijadikan penguasa di daerah Rangkasbitung. Dengan penuh semangat semua pasukan dikumpulkan untuk mempersiapkan peperangan. (Iis Suwartini UAD)

Read previous post:
Candi Prambanan Dibuka untuk Wisatawan

PRAMBANAN (MERAPI) - PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (Persero) tetap membuka Candi Prambanan dan Ratu Boko

Close