ASAL MULA PADI, CERITA RAKYAT KALIMANTAN TENGAH (1) – Kemarau Panjang Membuat Rakyat Terancam Bahaya Kelaparan

Padi merupakan salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Padi diduga berasal dari India atau Indocina dan masuk ke Indonesia dibawa oleh nenek moyang yang migrasi dari daratan Asia sekitar 1500 SM. Namun di Kalimantan Tengah ada cerita rakyat yang bercerita soal asal usul padi. Berikut ceritanya yang dikutip dari laman kemdikbud.go.id.

KONON dahulu kala di sebuah desa bernama Tanah Lingo di Pulau Kalimantan, terjadi kemarau yang sangat panjang. Tanaman tak ada yang bisa tumbuh. hutan-hutan sudah banyak yang kering dan terbakar, sungai-sungai tidak mengalir lagi airnya. Sementara batu-batuan berpecahan karena teriknya sinar matahari.

Bahaya kelaparan pun mengancam penduduk desa,, Di mana-mana terjadi pembicaraan di kalangan rakyat, yang mna masing-masing mengemukakan pendapatnya tentang sebab dari keadaan yang begitu mengancam itu. Para tetua Kampung sampai dibuat pusing dan gelisah menghadapi bahaya kelaparan yang mengancam penduduk.

Dalam keadaan yang serba membingungkan itu, para penduduk lalu menyerahkan persoalan mereka kepada seorang datu sebagai pimpinan tertinggi dari keluarga desa. Baritu Taun, demikian nama datu yang diserahi tugas berat itu, lalu memusatkan seluruh kemampuannya. Sampai akhirnya dia dapat menemukan sebab dari keadaan yang begitu mengancam tersebut. Katanya, penyebabnya adalah lantaran banyak manusia yang telah melanggar larangan-larangan yang dipesan para leluhur. Seperti di antaranya bebas memadu kasih tanpa perkawinan yang sah antara jejaka dengan gadis-gadis, merajalelanya permusuhan satu sama lain hanya dikarenakan soal-soal yang kecil saja, makin banyaknya perampasan hak milik seseorang oleh orang lainnya.

Demikian besar dosa yang telah dilakukan penduduk, sehingga untuk mendapatkan keampuhan dari leluhur haruslah ada salah seorang di antara mereka yang rela mengorbankan jiwanya, mengalirkan darah di atas bumi yang kering tersebut. Permintaan yang demikian ini kemudian disampaikan Baruti Taun kepada orang banyak. Akibatnya ,acam-macam omongan dan pikiran yang timbul di antara warga. Orang-orang yang terang telah melakukan pelanggaran tidak ada yang berani mematuhi panggilan suci dari arwah nenek moyang mereka itu. Tiada seorang pun di antara mereka yang berani menebus perbuatan mereka itu dengan pengorbanan jiwa.

Melihat situasi tersebut, segolongan orang-orang tua kemudian mengusulkan agar diadakan undian saja, untuk menentukan siapa di antara penduduk yang dikehendaki oleh leluhur untuk menjadi korban. Pendapat ini ternyata masih ditentang oleh yang lain, karena kalau yang demikian itu sampai berlaku, maka berarti bahwa pengorbanan itu bukanlah atas dasar kerelaan hati yang betul-betul timbul dari keinginan yang suci seseorang untuk ber­korban demi kepentingan orang banyak. Sebahagian lagi ada yang hanya tinggal bermasa bodoh dengan keadaan yang demikian itu. Mereka itu mengatakan bahwa biarkanlah para leluhur berbuat sekehendak hatinya, sampai leluhur itu sendiri yang puas atau jemu dengan keadaan demikian ini atau biarkanlah dunia ini hancur kalau memang dikehendaki. (*)

Read previous post:
Pembenahan pipa penyalur air bersih milik PDAM Tirta Lawu di Karangpandan
Penyambungan Baru Air Bersih Disetop, Tunggu Ramadan Berakhir

KARANGANYAR (MERAPI) - Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PUDAM) Tirta Lawu menyetop layanan pasang baru selama Ramadan sampai pascalebaran. Pemasangan

Close