SYEKH BURHANUDDIN (SI PONO) DARI RANAH MINANG (8-HABIS) – Jasadnya Raib Saat akan Dimakamkan

Syekh Burhanuddin pun melanjutkan penyebaran ajaran Islam ke seluruh pelosok Minangkabau. Syekh meniru cara gurunya, beliau meminta izin dan restu dari Raja Pagaruyuang. Syekh dan pengikutnya pun mendapatkan wewenang dan kesempatan yang luas untuk mengajarkan agama Islam ke seluruh Minangkabau.

SYEKH Burhanuddin dalam menyebarakan agama dikenal menggunakan cara yang menyenangkan dan mudah diterima oleh masyarakat. Suatu hari Syekh dijamu oleh masyarakat saat berdakwah. Akan tetapi, beliau meragukan kehalalan makanan yang disuguhkan karena zaman dahulu masyarakat masih banyak yang beragama Hindu dan Budha dan terbiasa memakan tikus, babi, katak dan ular.

Syekh pun menolak dengan cara yang halus, dan beliau mencontohkan cara memasak nasi dalam ruas bambu yang dilapisi daun pisang. Karena nasi tidak tahan lama, beliau mengganti beras biasa dengan beras pulut. Sejak saat itu mulai dikenal dengan istilah lamang. Cara masak Syekh ini pun ditiru oleh orang-orang disekitar surau tempat ia mengajar Syekh Burhanuddin berpulang ke Rahmatullah pada tahun 1692 dalam usia 85 tahun.

kematiannya menimbulkan misteri hingga kini karena setelah jasadnya saat dikapani dan hendak dikubur di samping Surau Tanjung Medan raib. Tak lama, terdengar kabar bahwa ada masyarakat yang melihat dan mendengar ada cahaya yang diiringi suara gandangtasa terbang melayang dan turun di dekat pohon Pinago Biru maka sejak saat itu lokasi tersebut adalah makam Syekh Burhanuddin sesuai dengan yang pernah beliau wasiatkan.

Selain ajaran agama yang telah diberikan oleh Syekh Burhanuddin, beliau juga telah meninggalkan tradisi yang begitu kental di masyarakat Minangkabau, khususnya bagi masyarakat Pariaman. Bagi masyarakat Pariaman, malamang ini diperkenalkan pertama kali oleh Syekh Burhanuddin. Hingga kini, malamang menjadi tradisi bagi masyarakat setempat pada waktu-waktu tertentu, khusunya pada Maulid Nabi. Tradisi malamang juga kini dijadikan salah satu objek pariwisata budaya di Pariaman, Sumatera Barat.
Malamang dipercaya memiliki seni budaya dan sosial budaya yang kuat, serta menyimpan makna spiritual yang tinggi. (Yosi Wulandari, UAD)

Read previous post:
Peradi Pergerakan Protes Penangkapan Advokat LBH Yogya

Close