SYEKH BURHANUDDIN (SI PONO) DARI RANAH MINANG (6) – Para Tukang Sihir Marah dan Membuat Onar

Setelah lulus, Pono menyendiri (berkhalwat) selama 40 hari di gua hulu Sungai Aceh, tepatnya di kaki Gunung Peusangan. Setelah selesai, tibalah saatnya Pono kembali ke daerah asalnya Pariaman mengembangkan ajaran agama yang telah ia pelajari. Keberhasilan Pono sebagai santri juga disertai gelar yang diberikan oleh gurunya sehingga Pono dikenal dengan Syekh Burhanuddin.

PERJALANAN menuju ke Pariaman, Syekh Burhanuddin dilepas Syekh Abdurrauf bersama 70 orang pengawal selama dalam perjalanan. Rombongan ini dipimpin oleh Panglima yang bernama Katib Sangko. Syekh Abdurrauf sengaja memberikan Syekh Burhanuddin pengawal karena akan banyak tantangan berat yang akan dihadapi olehnya. Kala itu, masyarakat di Pariaman masih banyak yang beragama Hindu, Budha, dan banyak tukang sihir yang akan menghalangi jalan Syekh Burhanuddin.

Selang beberapa hari menempuh perjalanan, akhirnya rombongan Syekh Burhanuddin tiba di Pulau Angso, Pantai Pariaman. Seperti yang telah diramalkan Syekh Abdurrauf, kedatangan Syekh Burhanuddin membuat para tukang sihir di tempat itu marah sehingga mereka mengeluarkan segala kepandaiannya untuk mengusir rombongan Syekh Burhanuddin.

Akibat kemarahan itu, terjadilah perkelahian yang memakan banyak korban dari dua belah pihak, baik dari rombongan Katik Sangko maupun pihak penyihir sehingga tempat kajadian itu dikenal dengan nama Ulakan. Ulakan diartikan tempat penolakan rombongan Syekh Burhanuddin.
Perkalihan tidak berhentik di sana saja, berita itu pun sampai ke para jagoan di Tujuh Koto. Para jagoan itu segera menyusul untuk mengalahkan Katib Sangko. Akan tetapi, mereka tidak cukup kuat, sehingga dengan mudah dikalahkan oleh Katib Sangko.

Perkelahian masih terus belanjut. Kalik-Kalik Jantan seorang tokoh masyarakat setempat pun turut gelap mata. Kalik-Kalik Jantan termasuk lawan yang cukup berat bagi Katib Sangko. Kalik-Kalik Jantan memiliki ilmu kebal terhadap senjata sehingga banyak pula para rombongan Katib Sangko yang tewas.
Beruntung, Syekh Burhanuddin segera menyuruh Katib Sangko melapor pada Syekh Abdurrauf mengenai kejadian tersebut. Katib Sangko pun diajarkan cara menghilangkan ilmu kebal Kalik-Kalik Jantan.

Pertempuran pun kembali belanjut ketika telah tiba di Pulau Anso, Syekh Burhanuddin memerintahkan menyerang dari Pantai Pariaman di pagi hari. Dengan berbekal ilmu yang diajarkan oleh Syekh Abdurrauf, Katib sangko berhasil mengalahkan Kalik-Kalik Jantan dan tewas terbunuh. Para pengikut Kalik-Kalik Jantan di seluruh Pariaman pun menyerah. Sejak persitiwa itu Katib Sangko diberikan julukan menjadi Mufti di Tandikek. (Yosi Wulandari, UAD)

Read previous post:
BNPT Menerima Anugerah Gatra Innovation Awards 2021

JAKARTA (HARIAN MERAPI) - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dianugerahi Gatra Innovation Awards 2021 atas Inovasi Edukasi, Kontraradikalisme, dan Deradikalisasi

Close