SYEKH BURHANUDDIN (SI PONO) DARI RANAH MINANG (5) – Lulus Ujian dengan Nilai Sempurna

Pono melewati pula seakan-akan ada kayu penyangga yang ditumpanginya menuju pulau. Kemampuan Pono menjadi keramat yang dimiilikinya. Peristiwa lain juga pernah terjadi, saat Pono sedang membetulkan atap rumah, waktu itu ada potongan kayu terjatuh dan akan mengenai anak gadis sang guru, dengan sigap Pono melayang ke bawah untuk menyambut kayu tersebut.

DALAM perjalanannya mendapatkan ilmu agama, Pono pun diuji keimanannya terhadap godaan wanita. Bagi kaum sufi ini adalah hal penting yang harus dilihat dari keimanan seorang laki-laki.

Suatu ketika, Pono diminta menjaga anak gadis sang guru yang muda belia dan cantik di rumah. Syekh Abdurrauf harus pergi memenuhi undangan panggilan kerajaan. Sebagai laki-laki, Pono tidak memungkiri melihat anak gadis sang guru yang sedang ranum tersebut bangkitlah nafsunya. Namun, Pono segera sadar dan ia segera pergi menjauh dan memutuskan memukul alat kelaminnya dengan batu. Keputusan itu diambil Pono karena ia tidak ingin menjadi budak nafsu setan dan menjadi orang yang terbuang di dunia dan akhirat sehingga ia rela menghukum alat kelaminnya.

Sejak peristiwa itu, Pono cukup lama menderita penyakit akibat cidera alat kelamin dan setelah sembuh dia tetap melakukan tugas semula sebagimana yang telah ditugaskan untuk melayani kebutuhan santri dengan bijak. Kejadian inilah yang membuat Syekh Abdurrauf menjadi lebih perhatian padanya.

Kemampuan Pono dalam belajar memang sudah tidak diragunakan lagi, suatu hari Pono dibawa Syekh Abdurrauf ke surau besar dan kemudian menyuruhnya membuka lembaran kitab dan Syekh Abdurrauf mengajarkannya sekali dan kenyataannya seluruh isi dari kitab tersebut telah dikuasai oleh Pono. Selain kepandaian yang dimiliki Pono, niatnya yang kuat yang belajar membuatnya menjadi santri terpandai yang dimiliki Syekh Abdurrauf.

Pono pun akhirnya lulus dengan nilai sempurna. Setelah lulus, Pono menyendiri (berkhalwat) selama 40 hari di gua hulu Sungai Aceh, tepatnya di kaki Gunung Peusangan. Setelah selesai, tibalah saatnya Pono kembali ke daerah asalnya Pariaman mengembangkan ajaran agama yang telah ia pelajari. Keberhasilan Pono sebagai santri juga disertai gelar yang diberikan oleh gurunya sehingga Pono dikenal dengan Syekh Burhanuddin. (Yosi Wulandari, UAD)

Read previous post:
Inovasi Penerapan Si Prokes Diliris BPBD Temanggung

TEMANGGUNG (MERAPI) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung meluncurkan sistem protokol kesehatan (Si Prokes). Si Prokes bilik yang

Close