SYEKH BURHANUDDIN (SI PONO) DARI RANAH MINANG (3) – Anaknya Cacat Namun Pintar dan Berbudi Mulia

Karena kecerdasan dan kemauan Pono yang sangat kuat dalam mempelajari agama, Pono berhasil dengan cepat menguasai semua pelajaran yang diberikan gurunya, Tuanku Madinah. Kegigihan Pono untuk belajar, Tuanku Madinah pun menyuruh Pono untuk pergi berguru kepada Syekh Abdurrauf di Singkil, Aceh.

PERINTAH dari Tuanku Madinah menjadi jawaban bagi Pono untuk menghindari kemarahan masyarakat yang banyak tidak suka kepadanya. Masyarakat di daerah sana ada yang hendak membunuhnya karena ia menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat. Masyarakat di daerah pesisir tersebut tidak terima karena menghalangi kebiasaan mereka berjudi dan bersambung ayam. Pono pun memenuhi perintah gurunya dengan bekal keberanian dan keyakinan untuk belajar agama dengan Syekh Abdurrauf di Aceh.

Dalam perjalanan ke Aceh, Pono bertemu empat orang yang hendak berguru dengan Syekh Abdurrauf di Singkil. Mereka memiliki tujuan dan niat yang sama, yaitu belajar dan memperdalam ilmu agama yang mereka pelajari. Mereka pun saling berkenalan, empat orang yang ditemui Pono adalah Datuak Maruhun Panjang yang berasal dari Padang Gantiang daerah Batu Sangkar, Sitarapang yang berasal dari Kubuang Tigobaleh Solok, M. Nasir dari Koto Tangah, dan Buyuang Mudo dari Bayang salido Banda Sapuluah.

Beberapa hari berlalu, akhirnya mereka tiba di Singkil. Setiba di Singkil mereka langsung menemui Syekh Abdurrauf di kediamannya dan mengutarakan maksud kedatangan mereka untuk belajar agama Islam.

Syekh Abdurrauf mengamati kelima orang yang datang menemuinya tersebut. Salah satu di antara mereka mengingatkan Syekh Abdurrauf pada pesan gurunya. Orang tersebut adalah Pono. Melihat Pono Syekh teringat kata gurunya bahwa akan ada calon muridnya yang datang dari arah selatan untuk belajar agama, anak ini akan menjadi penyuluh agama serta akan mewarisi ajarannya. Calon murid yang disampaikan gurunya itu memiliki kaki yang cacat, tetapi anaknya pintar dan memiliki budi pekerti yang mulia.

Sembari tersenyum melihat kelimat calon murid yang sudang menanti jawaban tersebut, Sang Mufti menyampaikan penerimaannya kepada calon muridnya.
Beberapa hari di tempat Sang Mufti, latar belakang Pono yang berasal dari keluarga bangsawan memperlihatkan kemampuannya mengolah alam. Hal tersebut tentu Pono dapatkan dari didikan Ayahnya yang keras dalam memberikan pelajaran namun sangat bermanfaat baginya untuk tinggal di pesantren Syekh Abdurrauf. Keahlian Pono ini membuat ia dipercaya untuk mengurus keperluan pesantren. Selain belajar agama, Pono pun mendapat tugas untuk membuat dan memelihara ikan di kolam, berkebun, bertani, serta menggembala sapi milik Syekh. (Yosi Wulandari, UAD)

Read previous post:
Mitra Amanah Gelar Pengajian dan Santunan Anak Yatim

Close