SYEKH BURHANUDDIN (SI PONO) DARI RANAH MINANG (2) – Kakinya Pincang karena Diterkam Harimau

Bersama Idris, Pono belajar menjadi pengembala yang baik dan saling bertukar cerita sembari belajar. Hari itu pun Pono dan Idris mengembala bersama. Seperti biasanya sembari mengembala Ponodan Idris pun sering memanfaatkan waktu untuk merenung di bukit. Dari perenungan-perenungan itu Pono dan Idris mendapatkan berbagai pelajaran.

SAAT hendak kembali dari mengembala, Pono merasakan perasaan yang tidak nyaman karena merasa ada yang mengikuti atau hendak mengganggunya. Perasaan tidak nyaman itu ternyata adalah insting Pono, karena ada harimau yang sedang mengintainya.
“Astaga, harimau!” Reaksi Pono mengetahui harimau mengintainya.

Pono pun dengan sigap menggunakan kemampuan beladiri yang telah diberikan ayahnya. Pono berhasil mengusir harimau meski harus terluka. Akibat perlawanannya dengan harimau, urat kaki Pono ada yang putus terkena kuku harimau. Sejak peristiwa itu Pono menjadi pincang.


Suatu ketika, saat Pono sedang asyik membantu pekerjaan ayah di rumahnya, ia mendapat berita ada seorang ulama dari Mekkah yang terkenal dan biasa dipanggil Tuanku Madinah. Tuanku Madinah merupakan guru agama yang berada di pesisir Minangkabau sebuah negeri rantau. Pono sangat tertarik mendengar berita tersebut dan ia ingin sekali bisa belajar agama bersama guru tersebut. Kuatnya niat Pono, malam hari ia utarakanlah niatnya belajar agama Islam kepada orang tuanya.

“Ayahnda, Ananda ingin sekali belajar agama Islam kepada Tuanku Madinah, sudikan Ayahnda memberikan izin?”
Ayah Pono tertegun lama mendengarkan permohonan anaknya. Namun, ia juga melihat kesungguhan yang besar di mata anaknya. Pono juga menunjukkan semangatnya ingin belajar. Ia terus meyakinkan ayahnya dengan niatnya tersebut. Sembari terdiam, Ayah Pono juga membayangkan anaknya yang sering diperolak-olok oleh teman-temannya di sini karena kondisi kaki Pono yang pincang sehingga memperkuat alasanny memberi izin.

Harapan Pono pun terkabul, Ayah Pono akhirnya mengizinkanya untuk belajar agama Islam ke daerah pesisir Minangkabau tersebut. Selain memberi izin ayah Pono juga memberikan Pono modal untuk dapat membuka lapangan usaha di nagari rantau itu.
Dan pergilah Pono ke nagari rantau tersebut.


Pono beradaptasi dengan cepat, setelah tiba di nagari rantau, pesisir Minangkabau tersebut Ia langsung menemui Tuanku Madinah dan menyampaikan niatnya untuk belajar. Selang waktu berlalu, karena kecerdasan dan kemauan Pono yang sangat kuat dalam mempelajari agama, Pono berhasil dengan cepat menguasai semua pelajaran yang diberikan gurunya, Tuanku Madinah. Kegigihan Pono untuk belajar, Tuanku
Madinah pun menyuruh Pono untuk pergi berguru kepada Syekh Abdurrauf di Singkil, Aceh. (Yosi Wulandari, UAD)

Read previous post:
Nusa Indah Atasi Keracunan Makanan

TANAMAN nusa indah mempunyai tampilan bunga yang khas dan menawan. Baik yang berbunga warna putih maupun kemerahan cocok dijadikan sebagai

Close